jump to navigation

KONTRIBUSI STRATEGI KOGNITIF DALAM AKSELERASI PEMBELAJARAN 06/04/2009

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags:
trackback

Oleh : Kuntjojo

A. Konsep-konsep Dasar Strategi Kognitif

1. Pengertian Strategi Kognitif

Gagne (Winkel, 2003: 72) menyatakan bahwa ada lima jenis hasil belajar yang diperoleh dari lima jenis aktivitas belajar, yaitu : a. belajar informasi verbal, b.belajar kemahiran intelektual, c. belajar pengaturan kegiatan kognitif, d. Belajar keterampian motorik, dan. e. belajar sikap. Tiga kelompok aktivitas belajar pertama oleh Gagne disebut sebagai belajar di bidang kognitif. Belajar pengaturan kegiatan kognitif atau strategi kognitif (cognitive strategy), menurut Gagne strategi kognitif merupakan keterampilan kognitif untuk memilih dan mengarahkan proses-proses internal dalam belajar dan berpikir (Windiyani, 2008)

Hartono mengutip artikel dari www.angelfire.com berisi ringkasan mengenai pengertian stratetegi kognitif. Dalam artikel yang ada di website tersebut dinyatakan ”Cognitive strategies are techniques that learners use to control and monitor their own cognitive prosesses” (Hartono, 2008: 3).

2. Latar Belakang Berkembangnya Strategi Kognitif

Strategi kognitif berkembang berdasarkan paradigma konstruktivistik dan teori metakognisi (metacognition theory). Paradigma konstruktivistik dan teori metakognisi melahirkan prinsip reflection in action. Menurut Schon (Pusdiklat Depdiknas, 2008) reflection in action adalah refleksi dari pengalaman praktisi profesional dalam pemecahan masalah yang pernah dihadapi untuk menghadapi masalah-masalah baru,

Proses reflection in action pada dasarnya merupakan gambaran tentang proses belajar. Bahwa proses belajar diawali dari pengalaman nyata yang dialami oleh si pembelajar. Pengalaman tersebut direfleksi secara individual. Dengan demikian pada dasarnya proses pembeljaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action.

Meta cognition merupakan ketrampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berfikirnya, Preisseisen (Pusdiklatdepdiknas, 2008). Menurut Preisseien meta cognition meliputi empat jenis ketrampilan, yaitu:

a. Ketrampilan pemecahan masalah (problem solving) yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternative pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.

b. Ketrampilan pengambilan keputusan (decision making), yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proes berfikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternative, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alas an-alasan yang rasional.

c. Ketrampilan berfikir kritis (critical thinking) yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya yaitu menganalisa argument dan memberikan interprestasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argument, dan interprestasi logis.

d. Ketrampilan berfikir kreatif (creative thinking) yaitu:Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan intuisi individu.

3. Peranan Strategi Kogntif dalam Keberhasilan Belajar Peserta Didik

Pesert adalah individu-individu yang telah dewasa baik secara fisik, afektif, sosial, maupun kognitif. Mereka secara teoritis adalah idividu-individu yang telah mampu menangani dan aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri. Dengan kemampuan mengatur kegiatan kognitif pada diri sendiri, mereka akan semakin baik pula pemikirannya.

Berkenaan dengan uraian singkat di atas dapat dinyatakan bahwa proses belajar dan pembelajaran di perguruan tinggi akan lebih berdaya guna jika pelaksanaannya merupakan aplikasi dari strategi kognitif. Aplikasi strategi kognitif di perguruan tinggi semakin diperlukan jika dilihat dari materi belajar peserta didik yang lebih banyak berupa konsep-konsep dan teori-teori.

B. Konsep-konsep Dasar Belajar Akselerasi

1. Pengertian Belajar Akselerasi

Belajar akselerasi adalah belajar yang dilakukan dengan waktu yang lebih pendek tanpa mengurangi materi yang seharusnya dipelajari. Jika pembelajaran akselerasi berhasil dalam pelaksanaannya dimana tujuan yang diharapkan juga tercapai maka diperoleh beberapa segi positif, yaitu: 1. peserta didik yang potensial dapat menyelesaikan pendidikannya lebih cepat dari waktu biasanya, 2. Efisien dalam waktu, dan 3. Efisien dalam biaya.

Kelas akselerasi merupakan kelas percepatan pembelajaran yang disajikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan lebih atau istimewa dengan materi-materi atau kurikulum yang padat sehingga dalam waktu lebih pendek mereka dapat menyelesaikan pendidikannya.

2. Konsekuensi Belajar Akselerasi

Percepatan waktu dalam pembelajaran akselerasi membawa konsekuensi yang tidak ringan baik itu dalam hal penyediaan fasilitas belajar muapun kemampuan guru untuk melaksanakannya. Jika pembelajaran akselerasi pelaksanaannya sama dengan pembelajaran biasa hanya waktunya saja yang diperpendek maka mustahil tujuan pembelajaran dapat tercapai. Untuk itu perlu dilakukan pembelajaran yang mampu mengoptimalkan kemampuan peserta didik, terutama kemampuan kognitif.

3. Perbedaan Belajar Secara Akseleratif dengan Belajar Secara Tradisonal

Belajar akselerasi dalam hal tujuan dan materi pembelajaran sama dengan belajar tradisional. Namun keduanya berbeda dalam beberapa hal Perbedaan keduanya selain dalam hal waktu, telah diidentifikasi oleh Maier (Pusdiklat Depdiknas, 2008), sebagaimana dikemukakan berikut ini.

a. Belajar secara tradisional, memiliki karakteristik:

1) bersifat kaku

2) suasanya muram dan serius

3) menggunakan satu jalan

4) mementingkan sarana

5) situasi persaingan ketat

6) bersifat behavioristik

7) aspek verbal diutamakan

8) bersifat mengendalikan

9) lebih mementingkan materi

10) aspek kognitif ditonjolkan

11) berdasarkan waktu

b. .Belajar secara akseleratif memiliki karekteristik;

1) bersifat fleksibel

2) suasanya gembira

3) menggunakan banyak jalan

4) mementingkan tujuan

5) melatih kerja sama

6) bersifat humanistik

7) mengfungsikan multri inderawi

8) bersifat mengasuh

9) lebih mementingkan aktivitas

10) berbagai aspek diperhatikan

11) berdasarkan hasil

4. Prinsip-rinsip Belajar Akselerasi

Belajar akselerasi sebagimana dipaparkan di atas dalam beberapa hal berbeda dengan belajar tradisional. Untuk mencapai keberhasilan belajar akselarasi ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip belajar akselarasi menurut Dave Meier (Pusdiklat Depdiknas, 2008) menulis beberapa prinsip pokok pemeblajaran akselerasi, yaitu:

1. Adanya keterlibatan total pembelajar dalam meningkatkan pembelajaran.

2. Belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasip, melainkan menciptakan pengetahuan secara aktif.

3. Kerjasama diantara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil belajar.

4. Belajar berpusat aktivitas sering lebih berhasil daripada belajar berpusat presentasi.

5. Belajar berpusat aktivitas dapat dirancang dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada waktu yang diperlukan untuk merancang pengajaran dengan presentasi.

C. Penerapan Strategi Kognitif dalam Akselerasi Pembelajaran

1. Strategi Kognitif sebagai pilihan untuk Akselerasi Pembelajaran

Tuntutan agar pembelajaran akselerasi mampu memenuhi harapan sebagaimana diuraikan di atas antara lain dapat dipenuhi dengan mengupayakan proses pembelajaran sedemian rupa. Salah satu upaya yang dapat dipilih adalah menerapkan strategi kognitif dalam proses tersebut atau pembelajaran startegi kognitif. Cognitive Strategy Instruction (CSI) is an instructional approach which emphasizes the development of thinking skills and processes as a means to enhance learning (EduTech Wiki, 2006). Pembelajaran strategi kognitif menurut EduTech Wiki, adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan perkembangan keterampilan berpikir dan proses-proses sebagai suatu alat untuk meningkatkan belajar. Pembelajaran stategi kognitif menurut Scheid, dilaksanakan utnuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam konteks ini Scheid menyatakan: The objective of CSI is to enable all students to become more strategic, self-reliant, flexible, and productive in their learning endeavors (EduTech Wiki, 2006).

2. Peran dan Tugas Guru dalam Belajar dan Pembelajaran Akselerasi

Agar pembelajaran cognitive strategi betul-betul efektif, maka ada beberapa ketentuan yang harus diikuiti oleh guru. Berkenaan dengan hal tersebut Cara Falitz (2006) menyatakan :

The first guideline is to teach prerequisite skills before strategy instruction begins. The second guideline would be for teachers to teach learning strategies on a constant basis and intensively. And the third guideline is requiring the student to gain mastery of a given strategy

Belajar merupakan proses holistik. Menurut Socrates dan John Dewey (Pusdiklat Depdiknas, 2008: 3), belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara mental dan fisik yang diikuti dengan kesempatan merefleksikan hal-hal yang dilakukan dari hasil perilaku tersebut. Menurut prinsip konstruktivisme, seorang pengajar atau guru, dan dosen berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu proses belajar siswa dan mahasiswa agar berjalan dengan baik. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sbb:

a. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggungjawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian.

b. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa.

c. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran si siswa jalan atau tidak.

Berdasarkan paradigma konstruktivisme, guru dituntut untuk dapat menjalankan perandengan sebaik-baiknya agar proses belajar berhasil secara optimal. Peran guru dan tugas guru menurut paradigma konstruktivistik adalah :

a. Guru banyak berinteraksi dengan siswa.

b. Guru lebih banyak memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah kepada siswa.

c. Guru memberikan kesempatan kepada para siswa agar mereka belajar dengan bekerja sama. Belajar dengan bekerja sama dapat menguntungkan pembelajar karena mereka dapat saling member dan menerima. Materi yang tidak bisa dimengerti dengan bekerja sama akan dapat terpecahkan.

d. Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama.

e. Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

f. Guru perlu memiliki pemikiran yang fleksibel.

Hal-hal yang penting dikerjakan oleh seorang guru konstruktivis sebagai berikut:

a. Mendengar secara sungguh-sungguh interpretasi siswa terhadap data

b. Memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas dan mengharga setiap pendapat yang diajukan.

c. Memahami bahwa “tidak mengerti” adalah langkah yang penting untuk memulai menekuni.

Jika strategi kognitif dilaksanakan secara konsekuen dan ditunjang dengan fasilitas belajar yang memadai maka proses belajar dan pembelajran akselarasi dapat membawa hasil, di mana peserta didik dapat menyelesaikan pendidikannya dengan hasil sebagaimana diharapkan dan dengan waktu yang lebih pendek.

Referensi

EduTech Wiki. 2006. ”Cognitive Strategy Instruction” Tersedia pada : http://www.edutechwiki.unige.ch/en/cognitive_strategy_instruction. (Diakses pada 10 Januari 2008).

Falitz, Cara. 1998.“Direct Instruction vs. Cognitive Strategy Instruction. Ter- sedia pada: http://ematusov.eds.udel.edu/EDST390.98F (Diakses pa-da tanggal 16 Februari 2008).

Pusdiklat Depdiknas. 2006. ”Startegi Kognitif”. Tersedia pada: http://www. Pusdiklatdepdiknas.net. (Diakses : 27 Maret 2008.)

Hartono. 2008. Modul Strategi Kognitif. Surabaya : UNIPA Surabaya.

Windiyani, Sri Bono. 2008. ”Belajar Bersama Alam” Tersedia pada : http://www.bocahkecil.info (Diakses pada tanggal 17 Juli 2008).

Winkel, W.S. 2003. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo.

About these ads

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: