jump to navigation

Ilmu dan Upaya Manusia untuk Memperoleh Kebenaran 10/08/2008

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags: , ,
add a comment

Oleh: Kuntjojo

1. Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk yang berakal budi. Dengan akal budinya, manusia mampu mengembangkan kemampuan yang spesisifik manusiawi, yang menyangkut daya cipta, rasa maupun karsa. Dengan akal budinya, maka kemampuan bersuara bisa menjadi kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Manusia mampu menciptakan dan menggunakan symbol-simbol dalam kehidupan sehari-hari, sehingga oleh Ernst Cassirer disebut sebagai animal symbolicum (Suriasumantri, 2005: 171).

Adanya akal budi juga menyebabkan manusia mampu berpikir abstrak dan konseptual sehingga manusia disebut sebagai makhluk pemikir (homosapiens). Aristoteles menyebut manusia karena kemampuan sebagai animal that reason, dengan cirri utamanya selalu ingin mengetahui. Pada manusia melekat kehausan intelektual (intellectual curiousity), yang menjelma dalam aneka wujud pertanyaan (Rinjin, 1996: 9).

Manusia selalu bertanya karena terdorong oleh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut sudah muncul pada awal perkembangannya. Manifestasi dari hasrat ingin tahu tersebut antara lain berupa pertanyaan: apa ini atau apa itu? Pertanyaan tersebut selanjutnya berkembangan menjadi: mengapa demikian dan bagaimana cara mengatasinya ?

Hasrat ingin tahu manusia tersebut terpuaskan bila manusia memperoleh pengetahuan yang benar mengenai hal-hal yang dipertanyakan. Dalam sejarah perkembangannya, manusia ternyata manusia selalu berusaha memperoleh pengetahuan yang benar atau yang secara singkat dapat disebut sebagai kebenaran (Suryabrata, 2000: 2). Manusia senantiasa berusaha memahami, memperoleh, dan memanfaatkan kebenaran untuk kehidupannya. Tidak salah jika satu sebutan lagi diberikan kepadanya, yaitu manusia sebagai makhluk pencari kebenaran.

2. Pendekatan-pendekatan untuk Memperoleh Kebenaran

Ada beberapa pendekatan yang dipakai manusia untuk memperoleh kebenaran yaitu : pendekatan empiris, pendekatan rasional, pendekatan intuitif, pendekatan religius, pendekatan otoritas, dan pendekatan ilmiah.

a. Pendekatan Empiris

Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata. Dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya, yang kemudia diproses dan mengisi kesadarannya. Indera bagi manusia merupakan pintu gerbang jiwa. Tidak ada pengalaman yang diperoleh tanpa melalui indera.

Kenyataan seperti yang disebutkan di atas menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman. Kebenaran dari pendapat tersebut kiranya tidak dapat dipungkiri. Bahwa dengan pengalaman kita mendapatkan pemahaman yang benar mengenai bentuk, ukuran, warna, dst. mengenai suatu hal. Upaya untuk mendapatkan kebenaran dengan pendekatan demikian merupakan upaya yang elementer namun tetap diperlukan.

Mereka yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukab didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkrit dan dapat dinyatakan melalui tangkapan indera manusia.

b. Pendekatan Rasional

Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio. Upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir. Dengan kemampuannya ini manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.

Golongan yang menganggap rasio sebagai satu-satunya kemampuan untuk memperoleh kebenaran disebut kaum rasionalis. Premis yang mereka pergunakan dalam penalarannya adalah ide, yang menurut anggapannya memang sudah ada sebelum manusia memikirkannya. Fungsi pikiran manusia adalah mengenal ide tersebut untukdijadikan pengetahuan.

c. Pendekatan Intuitif

Menurut Jujun S. Suriasimantri (2005: 53), intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahannya. Atau secara tiba-tiba seseorang memperoleh “informasi” mengenai peristiwa yang akan terjadi. Itulah beberapa contoh intuisi.

Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit atau tak bisa dijelaskan, dan tak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Bahkan seseorang yang pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bisa mengulang pengalaman serupa.

Kebenaran yang diperoleh dengan pendekatan intuitif disebut sebagai kebenaran intuitif. Kebenaran intuitif sulit untuk dipertanggung jawabkan, sehingga ada-ada pihak-pihak yang meragukan kebenaran macam ini.

Meskipun validitas intuitisi diragukan banyak pihak, ada sementara ahli yang menaruh perhatian pada kemampuan manusia yang satu ini. Bagi Abraham Maslow, intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience), sedangkan bagi Nietzsche, intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi (Sumantri, 2005: 53).

d. Pendekatan Religius

Manusia merupakan makhluk yang menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan adi kodrati, yaitu Tuhan. Kekuatan adi kodrati inilah sumber dari segala kebenaran. Oleh karena itu agar manusia memperoleh kebenaran yang hakiki, manusia harus berhubungan dengan kekuatan adi kodrtai tersebut.

Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti tersebutdi atas disebut sebagai pendekatan religius atau pendekatan supra-pikir (Rinjin, 1996: 54). Disebut demikian karena pendekatan tersebut melampai daya nalar manusia manusia.

Kebenaan religius bukan hanya bersangkuta paut dengan kehidupan sekarang dan yang terjangkau oleh pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transcendental, seperti latar belakang penciptaan manusia dan kehidupan setelah kematian.

e. Pendekatan Otoritas

Usaha untuk memperoleh kebenaran juga dapat dilakukan dengan dasar pendapat atau pernyataan dari pihak yang memiliki otoritas. Yang dimaksud dengan hal ini adalah individu-individu yang memiliki kelebihan tertentu disbanding anggota masyarakat pada umumnya.

Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Mereka yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran.

Sepanjang sejarah dapat ditemukan contoh-contoh mengenai ketergantungan manusia pada otoritas dalam mencari kebenaran. Pada masa Yunani kuno para pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles dipandang sebagai sumber kebenaran, bahkan melebihi pengamatan atau pengalaman langsung. Apa yang dinyatakan oleh para tokoh tersebut dijadikan acuan dalam memahami realitas, berpikir, dan berindak.

f. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah pertumpu pada dua anggapan dasar, yaitu : pertama, bahwa kebenaran dapat diperoleh dari pengamatan dan kedua, bahwa gejala itu timbul sesuai dengan hubungan-hubungan yang berlaku menurut hokum tertentu (Ary dkk., 2000: 63).

Pendekatan ilmiah merupakan pengombinasian yang jitu dari pendekatan empiris dan pendekatan rasional. Kombinasi ini didasarkan pada hasil analisis terhadap kedua pendekatan tersebut. Pada satu segi kedua pendekatan tersebut bisa dipertanggung jawabkan namun pada segi yang lain terdapat beberapa kelemahan.

Kelemahan pertama pendekatan empiris, bahwa pengetahuan yang berhasil dikumpulkan cenderung untuk menjadi kumpulan fakta-fakta. Kumpulan fakta-fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif (Suriasumantri, 2005: 52). Kelemahan kedua, terletak pada kesepakatan mengenai pemahaman hakikat pengalaman yang merupakan cara untuk memperoleh kebenaran dan indera sebagai alat yang menangkapnya.

Sedangkan kelemahan yang terdapat pada pendekatan rasional adalah terdapat pada kriteria untuk menguji kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya. Apa yang menurut seseorang jelas, benar, dan dapat dipercaya belum tentu demikian untuk orang lain. Dalam hal ini pemikiran rasional cenderung bersifat solipsisteik dan subjektif (Suriasumantri, 2005: 51).

Kelemahan-kelemahan darikedua pendekatan tersebut bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan mengombinasikan keduanya. Kombinasi tersebut diwujudkan dengan langkah-langkah yang sistematis dan terkontrol. Upaya memahami realitas dalam hal ini didasarkan pada kebenaran atau teori ilmiah yang ada serta mengujinya dengan mengumpulkan fakta-fakta.

Suatu kebenaran dapat disebut sebagai kebenaran ilmiah bila memenuhi dua syarat utama, yaitu : pertama, harus sesuai dengan kebenaran ilmiah sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan, dan kedua, harus sesuai dengan fakta-fakta empiris. Sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.

3. Ilmu sebagai Kebenaran Ilmiah

a. Karakteristik Kebenaran Ilmiah

Telah dipaparkan di atas bahwa dengan pendekatan ilmiah diperoleh pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu dapat dipahami sebagai proses, prosedur, dan produk (The Liang Gie, 2004: 90). Pembahasan berikut ini ditekankan pada makna ilmu sebagai produk. Sebagai produk ilmu tidak lain adalah pengetahuan atau kebenaran ilmiah yang memiliki karakteristik: a. sistematisasi, b. keumuman, c. rasionalitas, d. objektivitas, e. verifiabilitas, dan f. komunalitas.

Pengetahuan dapat digolongkan sebagai ilmu bila pengetahuan tersebut tersusun secara sistematis. Dan apa yang tersusun secara sistematis sebagai suatu kesatuan tersebut haruslah memiliki sifat keumuman (generality), artinya bahwa kebenaran yang terkandung didalamnya harus dapat berlaku secara umum atau luas jangkauannya.

Ciri rasionalitas mengandung makna bahwa kebenaran ilmiah bersumber pada pemikiran rasional yang mematuhi kaidah-kaidah logika. Sedangkan ciri objektivitas menunjuk pada kesesuaian antara hal-hal yang rasional dengan realitas. Ciri verifiabilitas mempunyai arti bahwa kebenaran ilmiah harus dapat diperiksa kebenarannya, diuji ulang oleh setiap anggota masyarakat ilmuwan. Hal ini menunjuk bahwa kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak atau final. Adapun ciri terakhir dari kebenaran ilmiah yaitu komunalitas memiliki arti bahwa kebenaran ilmiah itu merupakan pengetahuan yang menjadi milik umum.

Berbicara tentang karakteristik kebenaran ilmiah, Sonny Keraf A. dan Mikhael Dua (2001: 75), menyatakan bahwa kebenaran ilmiah mempunyai sekurang-kurangnya tiga sifat dasar, yaitu : rasional-logis, isi empiris, dan dapat diterapkan (pragmatis). Hal itu berarti bahwa kebenaran ilmiah yang logis dan impiris itu pada akhirnya dapat diterapkan dan digunakan bagi kehidupan manusia.

b. Fungsi Kebenaran Ilmiah

Semua kebenaran bermanfaat bagi manusia demikian juga dengan kebenaran ilmiah. Fungsi dari kebenaran ilmiah adalah : deskriptif, prediktif, dan pengendalian berkenaan dengan dengan gejala-gejala yang ada dalam dunia pengalaman manusia.

Fungsi deskriptif menunjuk pada keharusan ilmu untuk bisa memberikan penjelasan secara rinci, lengkap, dan runtut mengenai berbagai hal yang menjadi perhatian manusia. Penjelasan tersebut bisa bersifat deskriptif, preskriptif, eksposisi pola, maupun rekonstruksi histories.

Bila gejala-gejala yang ada di alam semesta dapat dijelaskan, maka selanjutnya dapat dilakukan prediksi atau membuat perkiraan-perkiraan tentang apa yang akan terjadi kemudian. Inilah fungsi kedua dari ilmu, yaitu fungsi prediktif. Atas dasar hasil prediksi, selanjutnya dapat dilakukan pengendalian, yaitu mencegah agar gejala-gejala yang tidak diinginkan tidak terjadi serta mendorong agar terjadi gejala-gejala yang dikehendaki.

4. Kesimpulan

Sebagai penutup dari pembahasan mengenai ilmu dan upaya manusia untuk memperoleh kebenaran, dikemukakan kesimpulan sebagai berikut.

a. Manusia merupakan homo sapiens atau makhluk pemikir. Sebagai makhluk pemikir maka pada diri manusia melekat selalu ingin tahu.

b. Hasrat ingin tahu manusia mendorong dirinya untuk mencari jawaban yang benar mengenai berbagai hal yang dipertanyakan.

c. Kebenaran dapat diperoleh manusia dengan berbagai pendekatan, salah satu diantaranya adalah dengan pendekatan ilmiah. Dengan pendekatan ilmiah manusia dapat memperoleh ilmu atau kebenaran ilmiah.

d. Kebenaran ilmiah memiliki karakteristik : sistematisasi, keumuman, rasionalitas, objektivitas, verifiabilitas, dan komunalitas.

e. Fungsi dari kebenaran ilmiah adalah deskriptif, prediktif, dan pengendalian.

Referensi

Ary, Donald. Dkk. 2000. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Alih Bahasa: Arief Furchan. Surabaya: Usaha Nasional.

Keraf, A. Sony dan Dua, Mikhael. 2001. Ilmu Pengetahuan : Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius.

Rinjin, Ketut. 1996. Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar. Bandung: CV Kayumas.

Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsaat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Suryabrata, Sumadi. 2000. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

The Liang Gie. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.

Latar Belakang Lahirnya Psikologi Dalam 09/08/2008

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags: ,
add a comment

Oleh : Kuntjojo

A. Psikologi sebagai Ilmu yang Berdiri Sendiri

Pada mulanya semua ilmu, termasuk psikologi, merupakan bagian dari filsafat. Sehingga ada pernyataan philosophy is the mother of sciences. Psikologi menjadi bagian dari filsafat berlangsung sampai abad ke-18. Pada saat itu pembahasan mengenai segi kejiwaan dilakukan dengan pendekatan filosofis oleh para filsuf. Pertanyaan utama yang ingin dijawab oleh para filsuf adalah : jiwa itu apa. Sedangkan metoda yang dipakai dalam membahas hal tersebut adalah reflective thinking.

Pada abad ke-18 para ahli berusaha menjelaskan gejala-gejala jiwa dengan ilmu faal atau fisiologi. Para ahli dalam bidang tersebut misalnya Sir Charles Bell, Francois Magendi, dan Johannes Peter Muller, telah melakukan penelitian untuk memperoleh gambaran tentang perilaku manusia. Bell dan Magendi berhasil menjelaskan gejala jiwa dalam hubungannya dengan saraf sensoris dan saraf motoris. Muller menjelaskan gejala pengamatan dengan hukum enerji spesifik.

Pada abad ke-19, tepatnya tahun 1879 psikologi diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Pengakuan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pengetahuan yang mempelajari segi kejiwaan manusia telah memenuhi syarat sebagai pengetahuan ilmiah, yaitu memiliki objek yang spesifik dan metoda ilmiah. Diakuinya psikologi sebagai suatu disiplin ilmu berkat usaha yang telah dilakukan oleh Wilhelm Wundt. Wundt, seorang filsuf, dokter, sosiologi, dan ahli hokum dari Jerman, mendirikan laboratorium psikologi yang pertama di dunia. Labo-ratorium tersebut didirikan oleh Wundt di Leipzig, Jerman pada tahun 1879.

Di dalam laboratorium yang didirikannya, Wundt tidak mempelajari hakikat jiwa melainkan fenomena-fenomena kejiwaan manusia berupa tingkah laku. Metoda ilmiah yang dikembangkan olerh Wundt adalah metoda eksperimen dengan memakai teknik introspeksi.

Pada masa awal berdirinya, psikologi didominasi gagasan dan upaya mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan jiwa orang dewasa yang normal. Sehingga ciri dari psikologi Wundt adalah penekanannya pada analisis atas proses-proses kesadaran yang dipandang terdiri dari elemen-elemen dasar, serta upayanya menekankan hukum-hukum yang membawahi hubungan diantara elemen-elemen kesadaran tersebut. Karakteristik yang demikian menyebabkan psikologi yang dikembangkan oleh Wundt dinamakan struturalisme atau psikologi elementalisme (Koeswara, 2005 : 27).

Kesadaran, di samping dipandang sebagai kesatuan yang terdiri dari elemen-elemen dasar, oleh Wundt dan para ahli lainnya pada masa itu, dinyataan juga sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental manusia. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia selalu berasal atau bersumber dari kesadaran.

B. Situasi yang Berkembang dalam Bidang Psikiatri

Sampai akhir abad ke-19 dalam bidang psikiatri berlaku pendapat bahwa semua gangguan jiwa berasal dari salah satu kerusakan organis dalam otak. Dalam kalangan medis pada waktu itu seakan-akan menjadi dogma bahwa penyebab gangguan jiwa tidak boleh tidak harus bersifat organis (Bertens, 1979 : xiii). Biarpun mereka belum mengetahui kerusakan apa yang menyebabkan gangguan jiwa tertentu, namun mereka berkeyakinan bahwa secara anatomis otak pasti tidak beres.

Sebenarnya ada orang-orang yang pendapatnya berbeda dengan apa yang berlaku pada saat itu. Bahwa gangguan jiwa bisa saja terjadi karena faktor afektif. Namun pendapat demikian tenggelam karena suara mayoritas.. Beberapa ahli yang berpendapat bahwa gangguan jiwa bisa terjadi karena factor nonorganis antara lain sebagai berikut.

1. J. Esquirol

Pada tahun 1805 seorang ahli dari Perancis, Esquirol, menulis deser-tasi yang berjudul Passions Consideres Comme Causes, Symtomes et Moyens Curafits de I’alienatien Mentale atau nafsu-nafsu dipandang sebagai penyebab, gejala, dan cara penyembuhan gangguan psikis (Bertens, 1879 : xiii).

Gagasan utama yang terdapat dalam desertasi tersebut adalah sebagai berikut.

a. bahwa faktor kejiwaan dapat menyebabkan gangguan jiwa;

b. bahwa gangguan jiwa dapat dikenali berdasarkan gejala-gejala yang bersifat kejiwaan;

c. bahwa penyembuhan gangguan jiwa dilakukan dengan pendekatan psikologis.

2. Dr. Joseph Breuer

Dalam upayanya menyembuhkan penderita histeria, Breuer meng-gunakan metoda hipnosis. Dengan metoda ini dia berhasil memastikan bahwa penyebab histeria adalah ingatan-ingatan tak sadar tentang peris-tiwa-peristiwa traumatis yang dialami oleh penderita.

Upaya Breuer menyembuhkan pasien dari histeria pernah dilakukan bersama dengan Sigmund Freud. Pengalaman mereka dalam menangani kasus Anna O. dipublikasikan pada tahun 1895 dalam buku yang diberi ju-dul Studien uber Hysterie (Studi-studi tentang Histeria).

3. J.M. Charcot

Charcot adalah seorang dokter dari rumah sakit La Salpetriere di Paris, Perancis, juga menggunakan metoda hypnosis dalam menyem-buhkan pasien-pasien penderita hysteria. Dia telah membuktikan bahwa kelumpuhan histeris berkaitan dengan faktor-faktor emosional dan pi-kiran-pikiran yang melintasi benak pasien dan bukan berasal dari gangguan fisik.

4. Piere Janet

Janet merupakan psikolog yang kemudian menempuh pendidikan kedokteran. Dia juga pernah menjadi murid Charcot. Janet mengakui bahwa perana patogenis yang dimainkan oleh ingatan-ingatan mengenai peristiwa emosional yang pernah dilupakan. Dia menulis hasil obser-vasinya dengan judul L’automatisme Psycholoique pada tahun 1889. Dalam tulisan tersebut dia menyatakan bahwa ingatan traumatis tidak dapat diulangi dalam keadaan sadar, tetapi hanya bila pasien dimasukkan dalam keadaan hipnosis.

C. Kelahiran Psikologi Dalam

Berbeda dengan Breuer, Charcot, Bernheim, dan terapis-terapis pada waktu itu, yang membiaran data yang diperoleh, Freud mulai menempatkan data yang ia dapatkan dari kegiatan terapinya dalam kerangka psikologi, serta ia berusaha memahami kejadian munculnya neurosis dari sudut psikologi, dan bukan dari su-dut neurologi atau fisiologi. Dengan demikian, sejak Freud menempuh jalannya sendiri, mengembangkan gagasan dan metodanya sendiri, Freud sebenarnya telah berada dalam usaha membangun landasan bagi konsepsi psikoanalisis dan ternyata usaha ini memang berhasil. Sehingga ada pernyataan bahwa metoda asosiasi bebas merupakan tonggak dimulainya psikologi dalam pada umumnya dan psikoanalisis pada khususnya.

Selain metoda asosiasi bebas, Freud juga mengembangkan metoda analisis mimpi (dream analysis) untuk penelitiannya. Metoda ini dikembangkan Freud berdasarkan asumsi bahwa isi mimpi merupakan simbol dari keinginan-keinginan atau pengalaman-pengalaman traumatis tertentu yang ditekan (represi) ke dalam alam tidak sadar. Dengan demikian, sebagaimana dinyatakan Freud, mimpi itu sendiri merupakan via regia (jalan utama) menuju alam tidak sadar (Bertens, 1979: xx). Artinya, melalui penafsiran atas sebuah mimpi bisa diketahui keinginan-keinginan atau pengalaman-pengalaman apa saja yang direpres dan berada di dalam ketidaksadaran. Untuk menguji ketepatgunaan metoda analisis mimpi, Freud menjadikan dirinya sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian ini kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Die Traumdeutung (The Interpretation of Dreams), yang terbit tahun 1900.

Dengan kemampuan yang baik dalam menulis serta ditunjang dengan data, selain buku yang telah disebutkan di atas, Freud juga menulis beberapa buku yang bukan hanya terbatas pada bidang psikologi dan psikopatologi, tetapi juga di bidang kebudayaan (mitologi), agama, dan sastra. Buku-buku buah gagasan Freud diantaranya adalah sebagai berikut (Koeswara, 1991 : 31).

1. Psychopathology of Everyday Life (1901)

2. Three Essays on Sexuality (1905)

3. Case of Dora (1905)

4. Introductory Lectures on Psychoanalysis (1920)

5. The Ego and the Id (1923)

6. Future of a Illution (1927)

7. Civilization and Its Discontents (1930)

Buku-buku tersebut tersebut dengan gagasan-gagasan yang termuat di dala-mnya, menjadikan Freud pusat perhatian serta menarik minat sejumlah besar orang untuk mempelajari psikoanalisis dan menjadi pengikut Freud. Diantara mereka terdapat nama-nama yang kemudian menjadi terkenal seperti Alfred Adler, Carl Gustav Jung, Ernest Jones, A.A. Brill, Otto Rank, Sandor Ferenzci, dan Hans Sachs. Tetapi dikemudian hari Adler dan Jung memisahkan diri dari Freud dan psikoanalisis karena ada perbedaan pendapat yang tajam, dan kemudian keduanya mengembangkan teori daln aliran psikologi sendiri. Adler mengembangkan Indivual Psychology dan Jung mengembangkan Analitical Psychology.

Psikoanalisis, Psikologi Individual, dan Psikologi Analitis secara umum disebut sebagai Psikologi Dalam (Depth Psychology) atau Psikologi Dinamis. Sebutan tersebut diberikan oleh karena fokus perhatian ketiga aliran psikologi tersebut pada aspek terdalam dari kehidupan jiwa manusia, yaitu ketidak sadaran. Kehidupan jiwa manusia menurut Psikoanalisis, Psikologi Individual, dan juga Psikologi analitis bersifat dinamis. Dinamika tersebut hanya bisa dipahami jika faKtor penggeraknya, baik yang disadari maupun yang tidak disadari dipahami terlebih dahulu.

Referensi

Berry, Ruth. (2001) Freud : Seri Siapa Dia. (Alih Bahasa : Frans Kowa). Jakarta: Erlangga.

Boeree, C.G. (2005) Sejarah Psikologi : Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern (Alih Bahasa : Abdul Qodir Shaleh). Yogyakarta : Primasophie.

Boeree, C. G. (1997) .Personality Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa : Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta : Primasophie.

Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung : PT Eresco.

Masrun. (1977) Aliran-aliran Psikologi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.