jump to navigation

MENGUPAYAKAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF UNTUK PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR MELALUI OPTIMALISASI KECERDASAN MAJEMUK 31/03/2009

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags:
trackback

Oleh : Kuntjojo

 

A.   Urgensi Pembelajaran yang Efektif

Usaha mengembangkan kualitas sumber daya manusia menjadi semakin penting bagi setiap bangsa dalam menghadapi era persaingan global. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, suatu bangsa pasti akan tertinggal dari bangsa lain dalam percaturan dan persaingan kehidupan dunia internasional yang semakin kompetitif. Kompetisi bukan hanya terjadi pada barang barang dan jasa tetapi juga pada sumber daya manusia.

Bangsa Indonesia secara kuantitas tidak dapat diragukan lagi. Persoalan besar justru terjadi dalam kualitas. Sampai saat ini bangsa Indonesia belum sepenuhnya mampu memenuhi berbagai kebutuhannya sehingga menggantungkan pada produk bangsa lain. Meskipun bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam yang menjanjikan tetapi kekayaan tersebut belum sepenuhnya dapat dieksplorasi oleh bangsa Indonesia sendiri. Kata kunci berkenaan dengan masalah tersebut adalah kualitas sumber daya manusia. Untuk itu upaya pengembangan sumber daya manusia merupakan kebutuhan mendesak bagi bangsa Indonesia.

Pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas menjadi tanggung jawab pendidikan nasional, terutama dalam mempersiapkan peserta didik untuk menjadi subjek yang memiliki peran penting dalam menampilkan dirinya sebagai manusia yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional pada bidangnya (Mulyasa, 2002:3). Berkenaan dengan upaya pengembangan sumber daya manusia Indonesia, Depdiknas sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional telah mengembangkan visi insan Indonesia yang cerdas dan kreatif dan misi mewujudkan pendidikan yang mampu  membangun insan Indonesia cerdas dan kompetitif dengan adil, bermutu, dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global (www. ktsp.diknas.co.id/ktsp sd/ppt3). Visi dan misi tersebut selanjutnya dijadikan kerangka acuan dalam melakukan pembaharuan sistem pendidikan nasional. 

Upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang mampu membangun insan Indonsesia yang cerdas dan kompetitif, tidak akan dapat dilakukan tanpa mengupayakan proses pembelajaran yang berkualitas. Proses pembelajaran dinyatakan berkualitas jika proses tersebut berlangsung secara efektif, yaitu adanya kesesuaian antara hasil pembelajaran dengan tujuan pembelajaran.

Problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah proses belajar mengajar yang diberikan di kelas umumnya hanya mengemukakan konsep-konsep dalam suatu materi. Proses belajar dan pembelajaran yang banyak dilakukan adalah model pembelajaran ceramah dengan cara komunikasi satu arah (teaching directed), di mana yang aktif 90% adalah pengajar. Sedangkan peserta didik biasanya hanya memfungsikan indera penglihatan dan indera pendengarannya. Pengenalan akan konsep ini bukan berarti tidak diperlukan, akan tetapi yang biasanya terjadi hanya sampai sebatas pengertian konsep, tanpa dilanjutkan pada aplikasi.

Model pembelajaran seperti tersebut di atas dianggap kurang mengeksplorasi wawasan pengetahuan  sikap dan perilaku peserta didik. Karena selama proses belajar dan pembelajaran , apabila konsentrasi peserta didik kurang optimal, maka yang bersangkutan  akan mendapat kesulitan untuk menerima materi yang diajarkan pada saat itu, sehingga juga sulit bagi peserta didik untuk  menyimpan materi pelajaran tersebut dalam ingatan/memori/kesan yang diterimanya.

 

B.   Karakteristik Peserta Didik Usia 6 – 12 Tahun

Ditinjau dari fase perkembangan menurut Elizabeth B. Hurlock, peserta didik yang berusia 6 – 12 tahun adalah individu-individu yang berada pada masa kanak-kanak akhir (late childhood). Masa ini disebut juga sebagai masa sekolah (school age). Adapun karakteristik peserta didik masa usia sekolah menurut Hulock (1997: 147-148) didasarkan atas sikap dan pandangan mereka yang berhubungan erat dengan peserta didik usia sekolah,yaitu sebagai berikut.

1.      Menurut orang tua, masa kanak-kanak akhir merupakan : a. masa yang menyulitkan, b. masa yang tidak rapi (the dirty age), dan c. masa bertengakar.

2.      Menurut guru, masa kanak-kanak akhir merupakan  : a. masa bersekolah dan b. masa kritis.

3.      Menurut psikologi, masa kanak-kanak akhir merupakan  : a. masa berkelompok, b.masa penyesuaian diri, c. masa bermain, dan d. masa kreatif.

Dari ciri-ciri di atas, yang diperoleh berdasarkan sebutan  yang diberikan oleh tiga pihak tersebut, ciri-ciri yang diberikan oleh guru dan psikolog perlu mendapat perhatian berkenaan dengan proses pembelajaran di sekolah. Sebutan masa bersekolah mengandung makna bahwa pada masa ini inidividu mengalami perkembangan pada keterampilan fundamental pendidikan, yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Adapun sebutan masa kritis mengandung makna bahwa apa yang terjadi atau dialami oleh individu pada masa tersebut berpengaruh bahkan menentukan apa yang terjadi pada dirinya kemudian hari. Jika pada masa ini individu hidup dalam lingkungan yang memperhatikan kedisiplinan maka dikemudian hari latihan-latihan untuk berdisiplin tesbut membuat dirinya menjadi orang yang disiplin.  

Sebutan masa berkelompok oleh psikolog artinya pada masa ini individu-individu memiliki dorongan yang sangat kuat untuk berada dan bersama dengan teman-teman kelompok usia sebaya. Masa penyesuaian artinya masa dimana individu-individu belajar menyesuaiakn diri secara lebih luas dengan lingkungan social di luar rumah. Adapun sebutan masa bermain menunjuk bahwa individu pada masa ini banyak menggunakan waktunya untuk bermain. Bermain merupakan kebutuahan individu sebagimana dirinya membutuhkan makan dan minum. Sedangkan masa kreatif artinya pada masa ini individu mengalami perkembangan yang baik pada daya kreativitasnya.

Di samping beberapa karakteristik  seperti dijelaskan di atas ada beberapa hal yang menonjol berkenaan perkembangan beberapa aspek. Diantaranya adalah perkembangan konsep diri, perkembangan keterampilan, dan perkembambangan kemampuan berbicara. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, individu mulai mengagumi tokoh-tokoh dalam sejarah, cerita fantasi, film, dan olahraga yang kemudian diikuti dengan pembentukan konsep diri ideal, maksudnya individu ingin seperti tokoh-tokoh  yang dikagumi tersebut (Hurlock, 1997: 172).

Seiring dengan pertumbuhan fisiknya usia anak mengalami perkembangan pada aspek . keterampilan. Keterampilan yang berkembang baik pada masa kanak-kanak akhir menurut Hurlock (1997: 149) adalah keterampilan menolong diri sendiri, keterampilan menolong orang lain, keterampilan bersekolah, dan keterampilan bermain. Keterampilan menolong diri sendiri adalah keterampilan berkenaan memenuhi kebutuhannya misal makan, mandi berpakain, naik sepeda, dst. Keterampilan bersekolah ditunjukkan dengan kemampuannya membaca, menulis, berhitung, melukis, berolahraga, menari, menyanyi, dst.

Dengan meluasnya cakrawala sosial, anak menemukan bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat di dalam kelompok sehingga anak berusaha untuk berbicara lebih baik (Hurlock, 1997: 151). Anak juga  semakin memahami bahwa bentuk-bentuk komunikasi sederhana seperti menangis dan gerak-gerak isyarat secara sosial kurang diterima. Bidang-bidang yang mengalami kemajuan berkenaan dengan kemampuan berbicara menurut Hurlock (1997: 151-152) adalah penambahan kosa kata, pengucapan, pembentukan kalimat, dan pemahaman terhadap makna pembicaraan.

 

C.   Teori Kecerdasan Majemuk

Pada mulanya hanya dikenal satu macam kecerdasan yang sekarang ini popular dengan sebutan intelektual. Dewasa ini telah diketahui bahwa kecerdasan manusia bukan hanya satu macam, melainkan bermacam-macam. Tokoh yang telah mengidentifikasi bermacam-macam kecerdasan yang dimiliki oleh manusia adalah seorang psikolog dari Amerika, Dr. Howard Gardner (DePorter dan Hernacki, 2007: 30).  Apa yang dikemukakan oleh Gardner selanjutnya dikenal sebagai teori kecerdasan majemuk. Menurut Gardner kecerdasan manusia terdiri dari 8 macam sebagai berikut. 

1.      Kecerdasan linguistik adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis.

2.      Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan mengolah angka dan menggunakan logika atau akal sehat dengan baik.

3.      Kecerdasan spasial adalah kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat.

4.      Kecerdasan kinestetis-jasmani adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan.

5.      Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk menangani berbagai bentuk musik dengan cara mempersepsi, membedakan, mengubah, dan mengekspresikannya.

6.      Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain.

7.      Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.

8.      Kecerdasan naturalis adalah kemampuan mengenali dan mengkatogerikan flora dan fauna di sekitarnya.

Menurut Gardner setiap individu memiliki ke delapan macam kecerdasan tersebut namun tidak semua kecerdasan tersebut  tidak berada dalam kualitas yang bagus semua. Hanya ada satu atau beberapa macam yang kualitasnya lebih baik dari yang lain.

 

D.   Pembelajaran yang Efektif untuk Peserta Didik Usia Sekolah

Selama ini dalam proses pembelajaran lebih mengarah pada dominasi otak kiri. Indikasi untuk itu antara lain : aktivitas tubuh lebih banyak menggunakan kaki dan tangan kanan yang fungsinya dikendalikan oleh otak kiri, sistem pembelajaran lebih banyak menekankan pada kemampuan bahasa (verbal linguistic) dan logika matematis yang dikendalikan oleh otak kiri serta aktivitas-aktivitas keseharian (membaca, menghitung, mengurutkan, dst.) yang fungsinya juga dikendalikan oleh otak kiri.

Kondisi seperti itu jika terjadi terus menerus akan menyebabkan dampak negatif  pada peserta didik yaitu : mudah lupa, sulit konsentrasi, tidak kreatif dalam memecahkan masalah, tidak mampu memahami permasalahan secara baik, tidak mampu belajar dalam waktu yang relatif lama, dan stres. Jika hal demikian terjadi maka tujuan-tujuan pembelajaran pasti tidak dapat dicapai yang pada akhirnya tujuan pendidikan juga gagal dicapai.  Untuk mencegah terjadi problem seperti itu maka hendaknya dilakukan upaya pembelajaran yang betul-betul efektif.

Upaya mewujudkan pembelajaran yang efektif juga telah dilakukan dengan merubah paradigm yang selama ini berlaku.  Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku.

Pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah pembelajaran dengan menggunakan sepasang perspektif, yaitu fokus pada individu pembelajar (keturunan, pengalaman, perspektif, latar belakang, bakat, minat, kapasitas, dan kebutuhan) dengan fokus pada pembelajaran (pengetahuan yang paling baik tentang pembelajaran dan bagaimana hal itu timbul serta tentang praktek pengajaran yang paling efektif dalam meningkatkan tingkat motivasi, pembelajaran, dan prestasi bagi semua pembelajar. Fokus ganda ini selanjutnya memberikan informasi dan dorongan pengambilan keputusan pendidikan.

Melalui proses pembelajaran dengan keterlibatan aktif siswa ini berarti guru tidak mengambil hak anak untuk belajar dalam arti yang sesungguhnya. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.

Tantangan bagi guru sebagai pendamping pembelajaran siswa, untuk dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa perlu memahami tentang konsep, pola pikir, filosofi, komitmen metode, dan strategi pembelajaran. Untuk menunjang kompetensi guru dalam proses pembelajaran berpusat pada siswa maka diperlukan peningkatan pengetahuan, pemahaman, keahlian, dan ketrampilan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran berpusat pada siswa. Peran guru dalam pembelajar berpusat pada siswa bergeser dari semula menjadi pengajar (teacher) menjadi fasilitator. Fasilitator adalah orang yang memberikan fasilitasi. Dalam hal ini adalah memfasilitasi proses pembelajaran siswa. Guru menjadi mitra pembelajaran yang berfungsi sebagai pendamping (guide on the side) bagi siswa.

          Pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif jika faktor-faktor yang terkait dengan proses tersebut dipertimbangkan dengan dengan matang diantaranya adalah karakteristik si pembelajar. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa terdapat  karakteristik tertentu pada peserta didik usia sekolah. Selain itu  fungsi belahan otak kiri dan otak kanan juga berpengaruh dalam proses belajar. Begitu juga keberadaan delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh setiap peserta didik.

Atas dasar paparan di atas dapat dinyatakan bahwa  upaya melakukan pembelajaran yang efektif dapat ditempuh dengan mengoptimalkan delapan macam kecerdasan. Dengan tindakan tersebut berarti berusaha memfungsikan belahan otak kiri dan kanan secara seimbang.  Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan model rangsangan untuk merawat kecerdasan (DePorter dan Hernacki, 2007: 30).

Aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dilakukan dengan mengoptimalkan delapan macam kecerdasan peserta didik adalah pembelajaran yang di dalamnya ada materi-materi atau pengalaman-pengalaman sebagai berikut:

1.    Latihan merangkai, menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tertulis, bercerita, dst. untuk mengembangkan kecerdasan linguistik.

2.    Latihan pemecahan masalah, baik yang berkenaan dengan angka maupun tidak. Kegiatan ini dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan matematis-logis.

3.    Latihan memahami dan membuat objek-objek tiga dimensi untuk mengembangkan kecerdasan spasial-visual.

4.    Gerak tubuh melalui kegiatan bermain, olah raga dan tari, untuk mengembangkan kecerdasan kinestetik-jasmani. Kegiatan bermain dapat berupa bermain fisik, kreatif, imajinatif, dan manipulative. Bermain fisik, merupakan kegiatan bermain yang berkaitan dengan upaya pengembangan aspek motorik anak seperti berlari, melompat, memanjat, berayun-ayun. Bermain kreatif, merupakan bentuk bermain yang erat hubungannya dengan pengembangan kreatifitas seperti menyusun balok, bermain dengan lilin atau pasir, melukis dengan jari dan sebagainya. Bermain imajinatif merupakan kegiatan bermain yang menyertakan fantasi anak seperti bermain sandiwara dimana anak dapat mengembangkan imajinasi dengan peran yang berbeda-beda. Bermain manipulatif, merupakan kegiatan bermain yang menggunakan alat tertentu seperti gunting, obeng, palu, lem, kertas lipat dan sebagainya untuk mengembangkan kemampuan khusus anak.Bermain yang menyenangkan bagi anak ini kan memberikan rasa aman dan bebas secara psikologis, suatu kondisi yang amat dibutuhkan bagi upaya pengembangan kreatifitas anak. Disamping itu, bermain yang merupakan kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan guna menemukan sesuatu dengan cara baru, memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengekspresikan dorongan kreatifnya.

5.    Apresiasi musik, praktik memainkan alat musik, dan menyanyi, untuk mengembangkan kecerdasan musikal.

6.    Latihan untuk mengenal siapa dirinya dan belajar mengendalikan diri dengan menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku.

7.    Latihan memahami, menghargai, dan menyesuaikan diri dengan teman-teman serta para guru di sekolah, untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal.

8.    Mengenal dan mendekat terhadap lingkungan alam melalui kegiatan SKAL (studi kenal lingkungan), untuk mengembangkan kecerdasan naturalis .

 

Upaya pembelajaran dengan materi atau pengalaman belajar sebagaimana tersebut di atas dilakukan untuk memberdayakan semua macam kecerdasan peserta didik melalui mata pelajaran-mata pelajaran terstentu yang relevan, dengan menganggap setiap peserta didik sebagai juara, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan, guru hadir di lingkungan belajar sebagai pribadi yang sangat menyenangkan dan terus berusaha  melakukan inovasi secara dalam cara mengajarnya. 

 

 

Referensi

 

Depdiknas. 2007. “Renstra Depdiknas 2005 – 2009.” Tersedia pada http://www. ktsp.diknas.co.id/ktsp sd/ppt3 (Diakses tanggal 16 Februari 2008).

 

DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2007.Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

 

Hurlock, Elizabeth B. 1997. Psikologi Perkembangan (Alih Bahasa : ). Jakarta: Erlangga.

 

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

Blogged with the Flock Browser

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: