jump to navigation

KECERDASAN INTERPERSONAL 31/10/2010

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

Oleh : Kuntjojo

1. Pengertian Kecerdasan Interpersonal

Menurut Lwin et al (2008: 197), kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak.

Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas untuk memahami maksud, motivasi, dan keinginan orang lain (Prasetyo dan Andriani, 2009: 74).  Kecerdasan interpersonal, menurut Safaria (2005: 23), merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menang-menang atau saling menguntungkan (Safaria, 2005: 23).  Menurut Safaria (2005: 23) individu yang tingggi kecerdasan interpersonalnya akan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, berempati secara baik, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, dapat dengan cepat memahami temperamen, sifat, suasana hati, motif orang lain. (more…)

RETARDASI MENTAL 30/03/2010

Posted by ebekunt in Psikologi.
add a comment

Oleh: Kuntjojo

A. Pengertian Retardasi Mental

Retardasi mental adalah kelainan ataua kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W.F. Maramis, 2005: 386).

Pada Wikipedia (The Free Encyclopedia, 2010), dinyatakan: Mental retardation (MR) is a generalized disorder, characterized by significantly impaired cognitive functioning and deficits in two or more adaptive behaviors with onset before the age of 18. It has historically been defined as an Intelligence Quotient score under 70. The term “mental retardation” is a diagnostic term denoting the group of disconnected categories of mental functioning such as “idiot”, “imbecile”, and “moron” derived from early IQ tests, which acquired pejorative connotations in popular discourse. (more…)

PENTINGNYA BONDING DAN ATTACHMENT DALAM PERKEMBANGAN BAYI 28/02/2010

Posted by ebekunt in Psikologi.
add a comment

Oleh : Kuntjojo

Bayi yang baru lahir yang menunjukkan serba tidak berdaya. Namun dibalik ketidak berdayaannya tersebut pada dirinya terdapat berbagai potensi yang siap berkembanga. Bayi akan berkembang dengan baik dan berbagai potensi yang dimilikidapat berubah menjadi kemampuan nyata bila dirinya mendapatkan stimuli dari lingkungannya, terutama lingkungan sosial.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi bayi. Dari lingkungan inilah bayi belajar membentuk pola hubungan dengan orang lain. Faktor yang sangat diperlukan oleh bayi dalam mengembangkan kemampuan tersebut bonding dan attachment. Bila faktor tersebut ternyata tidak atau kurang terpenuhi, menurut Bruce D. Perry (2001: 8) dapat menimbulkan masalah bagi bayi yaitu : (1) developmental delays, (2) eating, (3) soothing behavior,( 4) emotional function, (5) in-appropriate modeling, dan (6) aggression.

Bruce D. Perry (2001 : 3) menyatakan bahwa Bonding merupakan hubungan antara seseorang dengan orang yang lain dan melalui bonding terbentuklah attachment (ikatan kasih sayang). Sedangkan Jeff dan Cindi (2006) memandang bonding sebagai hubungan yang istimewa antara bayi dengan ibunya. Selengpanya dia menyatakan Bonding is that beautiful act of a baby and a parent totally falling in love with each other. Not only is bonding enjoyable, but it is essential for your baby’s psychological well being. A loving environment produces confidence, trust, and relational skills in your baby. The lack of bonding can cause serious psychological problems for your child in the future”

Bonding, menurut Jeff dan Cindi, merupakan kebutuhan esensial bagi bayi. Dengan bonding, bayi belajar mengembangkan rasa percaya diri keterampilan dalam hubungan sosial. Bonding dapat dapat diwujudkan dalam bentuk kontak dini antara ibu dan bayi sesaat setelah bayi dilahirkan, sentuhan, kontak mata, suara, kehangatan tubuh, aroma, dst.

Berkenaan dengan attachment, Bruce D. Perry (2001 : 2) menyatakan “attachment refers to a special bond characterized by the unique qualities of the special bond that forms in maternal-infant or primary caregiver-infant relationships.” Menurut Perry, attachment merupakan suatu hubungan antar manusia (bond) yang ditandai oleh sifat-sifat yang specifik dalam hubungan bayi dan ibunya atau bayi dan pengasuhnya. Selanjutnya Perry (2001: 2) menegaskan bahwa attachment terbentuk melalui bonding dalam dalam attachment bond terdapat elemen-element sebagai berikut.

  1. an attachment bond is an enduring emotional relationships with specific person;
  2. the relationship brings safety, comfort, soothing and pleasure;
  3. loss or threat of loss of person evokes intense distress.

Referensi

Perry, Bruce D. (2001) Bonding Attachment in Maltreated Children : Consequences of Emotional Neglect in Childhood. Booklet

PSIKOLOGI INDIVIDUAL 29/01/2010

Posted by ebekunt in Psikologi.
add a comment

Oleh : Kuntjojo

A. Alfred Adler sebagai Pendiri Psikologi Individual

Alfred Adler dilahirkan di Wina pada tanggal 7 Februari 1870 sebagai anak ketiga. Ayahnya adalah seorang pengusaha. Sewaktu kecil Adler  merupakan anak yang sakit-sakitan. Ketika berusia 5 tahun dia nyaris tewas akibat pneumonia. Pengalaman tidak menyenangkan berkaitan dengan kesehatan inilah yang kemudian mendorong dirinya untuk menjadi dokter. Adler lulus sebagai dokter dari Universitas Wina tahun 1895.

Adler memulai karirnya sebagai seorang optalmologis, tetapi kemudian dirinya beralih pada praktik umum di daerah kelas bawah di Wina, sebuah tempat percampuran tempat bermain  dan sirkus sehingga banyak pasien-nya yang pekerjaannya sebagai pemain sirkus. Kekuatan dan kelemahan para pemain sirkus inilah yang mengilhami dia mengembangkan kosep tentang inferioritas dan kompensasi.

Dari praktik umum kedokteran, Adler selanjutnya beralih pada psikiatri, dan pada tahun 1907 dia bergabung dengan kelompok diskusi Freud. Kemampuan menonjol yang ada pada Adler menghantar dirinya menjadi ketua Masyarakat Psikoanalisis Wina (Vienesse Analitic Society) dan ko-editor dari terbitan organisasi ini.

Meskipun Adler oleh Freud dipercaya   untuk memimpin organisasi psikoana-lisis bukan berarti Adler selalu sependapat dengan Freud. Dia berani mengkritik pandangan-pandangan Freud. Perbedaan pandangan-pandangan  Adler dan Freud yang tidak bisa mencapai titik temu kemudian ditindak lanjuti dengan perdebatan antara pendukung kedua tokoh tersebut yang berakhir dengan keluarnya Adler bersama 9 orang pendukungnya dari organisasi psikoanalisis. Mereka kemudia mendirikan organisasi yang mereka beri nama The Society for Free Psychoanalysis pada tahun 1911 dan tahun berikutnya organisasi ini namanya berubah menjadi The Society for Individual Psychology (Boeree, 2005 : 149).

(more…)

Komunikasi Interpersonal 30/11/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

Oleh: Kuntjojo

A.    Pengertian Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal (interpersonal communication) atau komunikasi antar pribadi adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, di mana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima dapat menanggapi secara langsung pula (Hardjana, 2007: 84).

Berdasarkan definisi tersebut dapat diidentifikasi empat elemen dasar komunikasi interpersonal, yaitu: 1. pribadi-pribadi yang melakukan komunikasi yang berperan sekaligus sebagai pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver), 2. pesan atau materi apa yang disampaikan (message), 3.media yang dipergunakan  untuk menyampaikan pesan serta 4. tujuan pesan disampaikan atau efek apa yang diharapkan setelah pesan diterima (effect).

(more…)

PSIKOANALISIS 30/10/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

Oleh: Kuntjojo

A. Sigmund Freud sebagai Pendiri Psikoanalisis

Berbicara mengenai Psikologi Dalam (depth psychology) dan Psikoanalisis pasti berbicara mengenai Sigmund Freud. Sebab psikoanalisis yang merupakan main stream dari psikologi dalam merupakan hasil karya Sigmund Freud. Temuan Freud tentang ketidaksadaran jiwa sebagai salah satu penggerak perilaku manusia dinyatakan sebagai temuan yang fenomenal. Freud dilahirkan pada 6 Mei 1856 di Moravia, sebuah kota kecil di Austria. Pada saat dia berumur 4 tahun, keluarganya mengalami kemunduran dalam bidang ekonomi, dan ayah Freud membawa pindah keluargnya, termasuk Freud, ke Wina. Setelah tamat dari sekolah menengah di Wina, Freud masuk fakultas kedokteran Universitas Wina dan lulus sebagai dokter tahun 1881. Semula ia tidak ingin berpraktik sebagai dokter karena ingin menjadi peneliti. Namun karena kebutuhan keluarga, terutama setelah dia menikah maka akhirnya mulai tahun 1886 ia menjalani praktik sebagai dokter. Meskipun demikian minatnya untuk menjadi ilmuwan tidak pernah surut  Di sela-sela praktiknya, ia masih menyempatkan diri untuk melakukan penelitian dan menulis, terutama dalam bidang neurologi, sebuah bidang yang mendorong Freud menekuni penyembuhan  gangguan-gangguan neurosis. (more…)

BERPIKIR POSITIF SEBAGAI PROSES MENUJU KEHIDUPAN POSITIF 25/09/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
add a comment

Oleh : Kuntjojo


POSITIF

A. Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki kemampuan paling baik. Salah satu kemampuan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup yang lain adalah kemampuan berpikir. Dari berbagai kemampuan yang ada pada manusia, berpikir merupakan kemampuan yang memegang peranan penting dalam menentukan kualitas hidupnya. Namun demikian tidak setiap orang mampu mengoptimalkan peran kemampuan ini. Salah satu usaha yang mestinya dilakukan agar pikiran bisa berperan secara baik adalah belajar untuk berpikir positif.

(more…)

KEPRIBADIAN MENURUT PARADIGMA HUMANISTIK 30/06/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

Maslows hierarchy of needs

Oleh: Kuntjojo

A. Pendahuluan

Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).

(more…)

STRES 30/06/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

STRESS_m

Oleh: Kuntjojo

A. Konsepsi-konsepsi Mengenai Stres

Dewasa ini istilah stress merupakan istilah sehari-hari, yang bukan saja diucapkan oleh para psikolog, psikiater, ataupun kalangan akademisi, tetapi juga diucapkan oleh anak-anak maupun orang dewasa dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan. Tetapi mereka yang mengucapkan kata tersebut belum tentu mengerti apa sebenarnya stres itu. Bagi kebanyakan orang, stres dianggap sama dengan psikosis.

Apakah sebenarnya stres itu ? Samakah stres dengan psikosis ? Faktor-faktor apakah yang dapat menyebabkan stres ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut dikemukakan konsep-konsep mengenai stress. Secara garis besar ada tiga pandangan mengenai stres, yaitu : stres merupakan stimulus, stres merupakan respon, dan stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan (Bart Smet, 1994 : 108-111). Dan penulis menambahkan satu pandangan lagi, yaitu stress sebagai hubungan antara individu dengan stressor.

1. Stres Sebagai Stimulus

Menurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang ada dalam lingkungan (environment). Individu mengalami stres bila dirinya menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Dalam konsep ini stres merupakan variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat.

Stress sebagai stimulus dapat dicontohkan : lingkungan sekitar yang penuh persaingan, misalnya di terminal dan stasiun kereta api menjelang lebaran. Mereka yang ada di lingkungan tersebut, baik itu calon penumpang, awak bus atau kereta api, para petugas, dst., sulit untuk menghindar dari situasi yang menegangkan (stressor) tersebut. Hal serupa juga dapat diamati pada lingkungan di mana terjadi bencana alam atau musibah lainnya, misalnya banjir, gunung meletus, ledakan bom di tengah keramaian, dst.

2. Stres Sebagai Respon

Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress merupakan respon atau reaksi individu terhadap stressor. Dalam konteks ini stress merupakan variabel tergantung (dependen variable) sedangkan stressor merupakan variabel bebas atau independent variable.

Pengertian stres yang mengacu pada konsepsi stres merupakan respon diantaranya dikemukakan oleh E.P. Gintings. Menurut Gintings (1999 : 5-6), stres ialah reaksi tubuh manusia kepada setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam hal sebagai berikut.

a. Keletihan dan kelelahan akibat kehidupan.

b. Suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis.

c. Mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman.

d. Tergangguangan mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang bersifat fisik, sosial, mental, dan spiritual oleh karena perubahan mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan maupun menyenangkan.

e. Mengecilnya potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan, beban berat, dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang.

Respon individu terhadap stressor memiliki dua konponen, yaitu : komponen psikologis, misalnya terkejut, cemas, malu, panik, nerveus, dst. dan komponen fisiologis, misalnya denyut nadi menjadi lebih cepat, perut mual, mulut kering, banyak keluar keringat dst. respon-repons psikologis dan fisiologis terhadap stressor disebut strain atau ketegangan.

3. Stres Sebagai Interaksi antara Individu dengan LingLingkungan

Menurut pandangan ketiga, stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional. Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian. (Bart Smet, 1994 : 111).

Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan, stres tidak dipandang sebagai stimulus maupun sebagai respon saja, tetapi juga suatu proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif, yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional.

Konsepsi di atas dapat diperjelas berdasarkan kenyataan yang ada. Misalnya saja stressor yang sama ditanggapi berbeda-beda oleh beberapa individu. Individu yang satu mungkin mengalami stres berat, yang lainnya mengalami stres ringan, dan yang lain lagi mungkin tidak mengalami stres. Bisa juga terjadi individu memberikan reaksi yang berbeda pada stressor yang sama. Faktor apa saja yang menyebabkan gejala demikian ?

Menurut Bart Smet (1994 : 130-131), reaksi terhadap stres bervariasi antra orang satudengan yang lain dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama, karena pengaruh variabel-varibel sebagai berikut.

a. Kondisi individu, seperti : umur, tahap perkembangan, jenis kelamin, temperamen, inteligensi, tingkat pendidikan, kondisi fisik, dst.

b. Karakteristik kepribadian, seperti : introvert atau ekstrovert, stabilitas emosi secara umum, ketabahan, locus of control, dst.

c. Variabel sosial-kognitif, seperti ; dukungan sosial yang dirasakan, jaringan sosial, dst.

d. Hubungan dengan lingkungan sosial, dukungan sosial yang diterima, integrasi dalam jaringan sosial, dst.

e. Strategi coping.

4. Stres Sebagai Hubungan antara Individu dengan Stressor

Stres bukan hanya dapat terjadi karena faktor-faktor yang ada di lingkungan. Bahwa stressor juga bisa berupa faktor-faktor yang ada dalam diri individu, misalnya penyakit jasmani yang dideritanya, konflik internal, dst. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang sebagai hubungan antara individu dengan stressor, baik stressor internal maupun eksternal.

Konsep tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh W.F. Maramis (1980 : 65-69), mengenai sumber stress. Menurut Maramis, stress dapat terjadi karena frustrasi, konflik, tekanan, dan krisis.

a. Frustrasi merupakan terganggunya keseimbangan psikis karena tujuan gagal dicapai.

b. konflik adalah terganggunya keseimbangan karena individu bingung menghadapi beberapa kebutuhan atau tujuan yang harus dipilih salah satu.

c. Tekanan merupakan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan oleh individu. Tekanan bisa datang dari diri sendiri, misalnya keinginan yang sangat kuat untuk meraih sesuatu. Tekanan juga bisa datang dari lingkungan.

d. Krisis merupakan situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan.

B. Macam-macam Stres

Ditinjau berdasarkan stresornya, stress dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu eustress dan distress. Eustress (good stress) merupakan stress yang disebabkan oleh stresor yang postif, misalnya berita bahwa individu mendapatkan suatu hadiah besar yang tidak terduga sebelumnya. Sedangkan distress merupakan stres yang disebabkan oleh stresor yang yang negatif, misalnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga, gagal dalam suatu usaha, dst.

C. Usaha-usaha Mengatasi Stres

1. Prinsip Homeostatis

Stres merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan cnderung bersifat merugikan. Oleh karena itu setiapindividu yang mengalaminya pasti berusaha mengatsi masalah ini. Hal demikian sesuai dengan prinsipyang berlaku pada organisme, khususnya manusia, yaitu prinsip homeostatis. Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. Sehingga bila suatu saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha mengembalikannya pada keadaan seimbang.

Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. Sebab keberaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup organisme. Lapar, haus, lelah, dts. merupakan contoh keadaan tidak seimbang. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan untuk mendapatkan makanan, minuman, dan untuk beristirahat. Begitu juga halnya dengan terjadinya ketegangan, kecemasan, rasa sakit, dst. mdondorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi ketidak seimbangan ini.

2. Proses Coping terhadap Stres

Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal dengan proses coping terhadap stress. Lazarus dan Folkman (Bart Smet, 1994 : 143), menggambarkan coping sebagai :

“ …..Suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan asng berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful…”

Menurut Bart Smet, coping mempunyai dua macam fungsi, yaitu : (1) Emotional-focused coping dan (2) Problem-focused coping. Emotional-focused coping dipergunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stress. Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan minuman keras, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, dst. Sedangkan problem-focused coping dilakukan dengan mepelajari keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stress. Menurut Bart Smet, individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya yakin dapat merubah situasi, dan metoda ini sering dipergunakan oleh orang dewasa.

Berbicara mengenai upaya mengatasi Stres, Maramis (1980 : 71-72) berpendapat bahwa ada bermacam-macam tindakan yang dapat dilakukan untuk itu, yang secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu (1) cara yang berorientasi pada tugas atau task oriented dan (2) cara yang berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence mechanism.

Mengatasi stres dengan cara berorientasi pada tugas berarti upaya mengatasi masalah tersebut secara sadar, realistis, dan rasional. Menurut Maramis cara ini dapat dilakukan dengan “serangan”, penarikan diri, dan kompromi. Sedangkan cara yang berorientasi pada pembelaan ego dilakukan secara tidak sadar (bahwa itu keliru), tidak realistis, dan tidak rasional. Cara kedua ini dapat dilakukan dengan : fantasi, rasionalisasi, identifikasi, represi, regresi, proyeksi, penyusunan reaksi (reaction formation), sublimasi, kompensasi, salah pindah (displacement).

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan untuk meredakan stress antara lain: relaks, cari sesuatu atau situasi yang dapat membuat tertawa, ambil nafas dalam-dalam, sharing, melakukan aktivitas yang tidak memerlukan tenaga, baik pikiran mapun fisik, yang berat, dst.

REFERENSI

Davison (et al) (2006) Psikologi Abnormal (Alih bahasa: Noermalasari Fajar) Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Maramis, W.F. (2000) Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Smet, Bart. (1994) Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Yulia Singgih D. (2000) Azas-azas Psikologi Keluarga Idaman. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Blogged with the Flock Browser

SEX EDUCATION TO ADOLESCENTS 18/05/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

sed_4773

By : Kuntjojo

A. Background of the Problem

Adolescence is a phase of human development whereby someone experiences dramatic changes from a sexual to sexual. These changes mainly are marked by development of primary and secondary sexual characteristics. The development of sexual characteristics then causes development of sexual behavior such as attracted to another gender and having sexual drive. Sexual behavior of adolescents can lead to severe problems if it expressed uncotrolly or against the morality values. In fact, uncontrolled sexual behavior harms adolescents for three main reasons.

First of all, adolescents who have uncontrolled sexual behavior have high risk for fail in school. Sexual behavior such as dating causes adolescents ignore their time for leaning. Beside lack time for learning, they also face a concentration problem in learning. Therefore, most of them face fail in learning some subjects even fail in school.

Second, adolescents who have uncontrolled sexual behavior have risk of unwanted pregnancy. One of form sexual behavior is desire for making love. If adolescents don’t have good self-control, they have risk for getting pregnant. According to Alan Guttmacher Institute (2003) about 60% young people of the world experienced unwanted pregnancies. If young women experience unwanted pregnancies furthermore they face failure in finishing their studies. Billingham (1992) writes, “Pregnancy is the single most common cause of school dropout among girls; nearly 70 percents fail to complete high school”.

Finally, adolescents who have uncontrolled sexual behavior also have high risk for infection with sexually transmitted deseases. Gonorrhea, one of sexual deseases, spreads through sexual intercourse. Adolescents will infect this desease if they have sexual intercourse with a person who already infection with this desease. HIV (human immunodeficiency virus), which have been known as the most horrified desease because there is no medicine for it, also spread through sexual intercourse. So, sexual intercourse outside of marriage has high risk for infection with AIDS/HIV. Research showed that up to 60 percents of HIV in young women occur by the age of 20 (Alan Guttmacher Institute, 2003). According to Centers for Disease Control and Prevention (2009), in the United States,  in 2006, an estimated 5,259 young people aged 13-24 in the 33 states reporting to CDC were diagnosed with HIV/AIDS, representing about 14% of the persons diagnosed that year.

In summary, uncontrolled sexual behavior is harms the future and health of adolescents. Therefore, it must be prevented. According to some experts, such as Singgih Gunarso, Sarwono, Guno Asmoro, and Forest, sex education is the right choice for preventing this phenomena. Moreover, it   must be given to young people prior adolescence.

In order to reach the aims of sex education correctly, some important aspects of sex education must be understood. First, what is sex education? Second, what are the aims of sex education to adolescents? Third, how should sex education to adolescents be given? Fourth, what material should be given in sex education to adolescents? Finally, who should give sex education to adolescents?

Key words: adolescents, sexual behavior, and sex education.

B. Discussion

Based on some question above, there are five important aspects will be discussed in this paper.

1. What is Sex Education?

There are some experts who give the definitions about sex education. Sarwono (2002: 188-189), says, “Pendidikan seks bukanlah penerangan tentang seks semata-mata. Pendidikan seks adalah suatu informasi mengenai seksualitas manusia secara jelas dan benar, yang meliputi terjadinya pembuahan, kehamilan, sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan masyarakat”. According to Sarwono, sex education is not only information about sex but also human sexuality including conception, child birth, sexual behavior relating to health, psychological, and sociological aspects.

Simon Forest, a director of UK Sex Education Forum, states, “Sex education, which is sometimes called sexuality education or sex and relationship education, is the process of acquiring information and forming attitudes and belief about sex, sexual identity, relationships and intimacy”.

Based on two definitions above, sex education can be understood as follows:

a. It is the process of acquiring information about human sexuality such as conception, pregnancy, child birth, sexual behavior, reproductive health, sexually transmitted diseases, etc.

b. It is the process of developing attitudes and values relating to human sexuality.

c. It is the process of developing interpersonal skills.

d. It is the process of developing responsibility.

2. What are the Aims of Sex Education to Adolescents?

Young people, especially adolescents must be given sex education in order to:

a. help them obtain the clear and correct knowledge about sexuality;

b. make them proud of their own sex;

c. help them develop responsible sexual behavior;

d. help them develop relationship skills;

e. help them develop an ability to make decisions over their lifetime.

3. How should Sex Education to Adolescents be Given?

There some principles that should be considered giving sex education. First, sex education is the goal oriented activity. Second, the information should be given naturally, objectively, and undoubtly. Third, sex education can be given individually and in groups. Fourth, it can be given as a preventive or corrective action. Finally, it should be given repeatedly.

4. What material should be Given in Sex Education to Adolescents?

The aims of sex education decide what material should be given in this education. Based on its aims, the main material of sex education can be developed as follows:

a. Information about human sexuality including growth and development, human reproduction, anatomy and physiology of genital organs, pregnancy, childbirth, parenthood, contraception, abortion, HIV/AIDS and sexually transmitted diseases.

b. Values and attitude about reproductive health, family life, marriage, parenthood, and condusive relationship for growing of children.

c. Relationship and interpersonal skills including self-respect, empathy for others, communication, and assertiveness.

5. Who should Give Sex Education to Adolescents?

Sex education should not be given by any person for two reasons. First, it is a kind of education. So, it can only be done by educators. Second, its materials has the wide scope. So, it can only mastered by certain persons.

Based on discussion above, it can be stated that sex education to adolescents must be held by the right persons. Prabhu (2006) proposes, “Sexuality education should be taught by specially  trained teachers or professionals or by trained peer groups”.

Sex educators, according to Prabhu, are teachers who have been trained for giving sex education and professionals such as physicians, psychologists, and counselors. Peer groups also can be sex educators if they have been trained for this education.

How about parents and teachers? Eventhough parents and teachers are not sex educators for adolescents, they should be involved in developing a program because of their responsibility as educators.

C. Conclusion

In conclusion, sex education is viewed as the best way of preventing adolescents’ uncontrolled behavior. But there is a notice for it. It will succeed if its exercution based on the right understanding about it. So, person who will be the sex educator to adolescents must understand about the meaning, the aims, and the materials of sex education needed adolescents. They must understand the requirements for sex educators.

References

Alan Guttmacher Institute. (2003) “Sexual and Reproductive Health Education and Services for Adolescents”. http://www.gutmacher.edu (accessed: November 24, 2008).

Billingham, Khaterine. (1992) Developmental Psychology for the Health Care Professions: Parts I – Prenatal Through Adolescents Development. Colorado: Westview Press.

CDC. (2009) “Sexual Risk Behavior.” http://www.cdc.gov/ (accessed: April 20, 2009).

Forrest, Simon. (2006) “Sex Education that Works” http://www.evert.or/educate.html. (Accessed: December 3, 2008).

Prabhu, Vithal. (2006) “Sex Education.” http://www.healthlibrary.com/reading/index.html. Accessed: December 3, 2007).

Sarlito Wirawan Sarwono. (2004) Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Blogged with the Flock Browser