jump to navigation

PROFESIONALISASI BIMBINGAN DAN KONSELING 14/11/2010

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Oleh:  Kuntjojo

A. STANDARISASI PROFESI KONSELOR

Pengertian Profesi

Ada beberapa pendapat tentang pengertian profesi, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Profesi merupakan suatu pekerjaan atau atau jabatan yang menuntut keahlian dari para petugasnya (Prayitno dan Erman Amti, 2004:  38). 2. Profesi merupakan pekerjaan atau karir yang bersifat pelayanan bantuan keahlian dengan tingkat ketepatan yang tinggi untuk kebahagiaan pengguna berdasarkan norma-norma yang berlaku (Dirjen Dikti Depdiknas, 2004: 5). 3. Kekuatan dan eksistensi profesi muncul sebagai akibat interaksi timbal balik antara kinerja tenaga professional dengan kepercayaan publik (public trust). (more…)

Advertisements

KONSEP-KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 30/06/2010

Posted by ebekunt in Uncategorized.
add a comment

Oleh :

Kuntjojo

    Pengertian dan Karakteristik Anak Usia Dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. (more…)

PERANAN FAKTOR ENCODING DALAM KEBERHASILAN KOMUNIKASI 07/12/2009

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Oleh: Kuntjojo

A. Pengertian dan Unsur-unsur Komunikasi

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa latin communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian untuk seseorang, tukar-menukar, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap,bertukar pikiran, berhubungan, berteman (Hardjana, 2003: 10).

Ensiklopedia Bebas dunia maya, Wikipedia (2009), mendefinisikan komunikasi sebagai berikut. Communication is commonly defined as “the imparting or interchange of thoughts, opinions, or information by speech, writing, or signs”. Although there is such a thing as one-way communication, communication can be perceived better as a two-way process in which there is an exchange and progression of thoughts, feelings or ideas (energy) towards a mutually accepted goal or direction (information). Komunikasi, menurut Wikipedia, adalah proses saling bertukar pikiran, opini, atau informasi secara lisan, tulisan, ataupun isyarat.  Komunikasi bisa   satu arah maupun dua arah.

Dari pendapat tentang pengertian komunikasi tersebut dapat dipahami bahwa komunikasi merupakan suatu proses yang didalamnya terdapat berbagai unsure sebagai berikut:

1. Sumber ( source ) : Pihak yang berinisiatif atau berkebutuhan untuk berkomunikasi, individu, kelompok, organisasi, perusahaan, dll. Pihak sumber memiliki  gagasan  yang akan disampaikan kepada penerima. Gagasan diubah menjadi pesan melalui proses encoding, yaitu proses merubah gagasan menjadi simbol-simbol yang umum (kata, bahasa, tanda, gambar, dst.) sehingga dapat dipahami oleh penerima.

2. Pesan (message) : hal-hal yang bersifat verbal dan/ atau nonverbal yang mewakili perasaan, pikiran, keinginan atau maksud sumber tadi.

3. Saluran/Media (channel) : alat/ wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesan kepada penerima.

4. Penerima (receiver) : Orang yang menerima pesan dari sumber. Penerima pesan ini menerjemahkan/ menafsirkan seperangkat simbol verbal dan/ atau non verbal yang ia erima menjadi gagasan yang dapat ia pahami. Proses demikian disebut decoding.

5. Efek (effect) : Apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut.

B. Proses Komunikasi

Proses komunikasi dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Sumber (komunikator) bermaksud menyampaikan gagasan (informasi, saran, permintaan, dst.) yang ingin disampikan kepada penerima dengan maksud tertentu. Untuk itu dia menterjemahkan gagasan tersebut  menjadi simbol-simbol (proses encoding) yang selanjutnya disebut pesan (message). Pesan tersebut disampaikan melalui saluran (channel) tertentu misalnya dengan bertatap muka langsung, telepon, surat, dst. Setelah pesan sampai pada penerima, selanjutnya terjadi proses decoding, yaitu menafsirkan pesan tersebut. Setelah itu terjadilah respon pada penerima pesan. Respon tertuju pada pengirim pesan. Komunikasi sebagai proses dapat divisualisasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.

(more…)

NEUROSIS 12/05/2009

Posted by ebekunt in Psikologi, Uncategorized.
Tags:
add a comment

32964stressedOut

Oleh: Kuntjojo

A. Pengertian Neurosis

Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa. Menurut Singgih Dirgagunarsa (1978 : 143), neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian, sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar, dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.

Dali Gulo (1982 : 179), berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan mental, hanya memberi pengaruh pada sebagaian kepribadian, lebih ringan dari psikosis, dan seringkali ditandai dengan : keadaan cemas yang kronis, gangguan-gangguan pada indera dan motorik, hambatan emosi, kurang perhatian terhadap lingkungan, dan kurang memiliki energi fisik, dst.

Nurosis, menurut W.F. Maramis (1980 : 97), adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar.

Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut:

a. Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan.

b. Neurosis terjadi pada sebagian kecil aspek kepribadian.

c. Neurosis dapat dikenali berdasarkan gejala yang paling menonjol yaitu kecemasan.

d. Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari.

e. Penderita neurosis tidak memerlukan perawatan khusus di rumah sakit jiwa.

B. Macam-macam neurosis

Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam gejala. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol, sebutan atau nama untuk jenis neurosis diberikan. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri dari jenis neurosis yang lain, bahkan kadang-kadang ada pasien yang menunjukkan begitu banyak gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W.F. Maramis, 1980 : 258).

Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang paling menjonjol atau paling kuat. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan jenis-jenis neurosis sebagai berikut (W.F. Maramis, 1980 : 257-258).

1. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state)

a. Gejala-gejala neurosis cemas

Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan, tetapi bersifat mengambang bebas, apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Bila kecamasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan.

1) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingan, dst.

2) Gejala psikologis berupa kecemasan, ketegangan, panik, depresi, perasaan tidak mampu, dst.

b. Faktor penyeban neurosis cemas

Menurut Maramis (1998 : 261), faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktor-faktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam.

c. Terapi untuk penderita neurosis cemas

Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap permasalahan. Mudah tidaknya upaya ini pada umumnya dipengaruhi oleh kepribadian penderita. Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas, yaitu : 1) psikoterapi individual, 2) psikoterapi kelompok, 3) psikoterapi analitik, 4) sosioterapi, 5) terapi seni kreatif, 6) terapi kerja, 7) terapi perilaku, dan 8) farmakoterapi.

2. Histeria

a. Gejala-gejala histeria

Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsang-rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Gejala-gejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat.

b. Jenis-jenis histeria

Histeria digolongkan menjadi 2, yaitu reaksi konversi atau histeria minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor.

1) Histeria minor atau reaksi konversi

Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik, dengan gejala : lumpuh, kejang-kejang, mati raba, buta, tuli, dst.

2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi

Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom, sehingga timbul gejala-gejala : amnesia, somnabulisme, fugue, dan kepribadian ganda.

c. Faktor penyebab histeria

Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gannguan jiwa.

d. Terapi terhadap penderita histeria

Ada beberapa teknik terapi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan hysteria yaitu :

1) Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. Joseph Breuer);

2) Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud);

3) Psikoterapi suportif.

4) Farmakoterapi.

3. Neurosis fobik

a. Gejala-gejala neurosis fobik

Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. Fobia dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, mual, panik, berkeringat, dst.

Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut, misalnya :

1) Hematophobia: takut melihat darah

2) Hydrophobia: takut pada air

3) Pyrophibia: takut pada api

4) Acrophobia: takut berada di tempat yang tinggi

b. Faktor penyebab neurosis fobik

Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah. Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidak sadarannya). Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa.

c. Terapi untuk penderita neurosis fobik

Menurut Maramis, neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Namun bila gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah. Teknik terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah :

1) Psikoterapi suportif, upaya untuk mengajar penderita memahami apa yang sebenarnya dia alami beserta psikodinamikanya.

2) Terapi perilaku dengan deconditioning, yaitu setiap kali penderita merasa takut dia diberi rangsang yang tidak menyenagkan.

3) Terapi kelompok.

4) Manipulasi lingkungan.

4. Neurosis obsesif-kompulsif

a. Gejala-gejala neurosis obsesif-kompulsif

Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan.

Contoh obsesif-kompulsif antara lain ;

1) Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang ia curi.

2) Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu.

3) Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian.

4) Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus.

b.Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif

Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D., 2000 : 116-117).

1) Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan.

2) Trauma mental emosional, yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil).

c. Terapi untuk penderita neurosis obsesif-kompulsif

1) psikoterapi suportif;

2) penjelasan dan pendidikan;

3) terapi perilaku.

5. Neurosis depresif

a. Gejala-gejala neurosis depresif

Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat, rasa harga diri rendah, dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah :

1) gejala jasmaniah : senantiasa lelah.

2) gejala psikologis : sedih, putus asa, cepat lupa, insomnia, anoreksia, ingin mengakhiri hidupnya, dst.

c. Faktor penyebab neurosis depresif

Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D. Burns (1988 : 6), bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan, tetapi merupakan produk “keterpelesetan’ mental, bahwa depresi bukanlah suatu gangguan emosional sama sekali, melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran yang negatif, yang kemudian menciptakan suasana jiwa, terutama perasaan yang negatif pula.

Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu bersifat objektif. Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas tersebut, melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan. Dan penafsiran ini bisa keliru bahkan bertentangan dengan realitas sebenarnya.

d. Terapi untuk penderita neurosis depresif

Untukmenyembukan depresi, Burns (1988 : 5) telah mengembang-kan teknik terapi dengan prinsip yang disebut terapi kognitif, yang dilakukan dengan prinsip sebagai berikut.

1) Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran atau pemikiran ang bersangkutan.

2) Jika depresi sedang terjadi maka berarti pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam.

3) Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan emosional.

Terapi kognitif dilakukan dengan cara membetulkan pikiran yang salah, yang telah menyebabkan terjadinya kekacauan emosional. Selain terapi kognitif, bisa pula pendrita depresi mendapatkan farmakoterapi.

6. Neurasthenia

a. Gejala-gejala neurasthenia

Neurasthenia disebutjuga penyakit payah. Gejala utama gangguan ini adalah tidak bersemangat, cepat lelah meskipun hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit, emosi labil, dan kemampuan berpikir menurun.

Di samping gejala-gejala utama tersebut juga terdapat gejala-gejala tambahan, yaitu insomnia, kepala pusing, sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit, dst.

b. Faktor penyebab neurasthenia

Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Daradjat, 1983 : 34), yaitu sebagai berikut.

1) Terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan.

2) Terhalanginya keinginan-keinginan.

3) Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan

c. Terapi untuk penderita neurasthenia

Upaya membantu penyembuahn penderita neurasthenia dapat dilakukan dengan teknik terapi sebagai berikut.

1) Psikoterapi supportif;

2) Terapi olah raga;

3) Farmakoterapi.

Referensi

Branca, Albert A. (1965) Psychology : The Science of Behavior. Boston : Allyn and Bacon, inc.

Burns, David D. (1998) Terapi Kognitif : Pendekatan Baru Bagi Penanganan Depresi. (Alih Bahasa : Santosa) Jakarta : Erlangga.

Dirgagunarsa, Singgih. (1988) Pengantar Psikologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Maramis, W.F. (1980) Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University.

Blogged with the Flock Browser

METAKOGNISI DAN KEBERHASILAN BELAJAR PESERTA DIDIK 12/04/2009

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Oleh: Kuntjojo

1. Pengertian Metakognisi

Istilah metakognisi yang dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan metacognition berasal dari dua kata yang dirangkai yaitu meta dan kognisi (cognition). Istilah meta berasal ari bahasa Yunani μετά yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan after, beyond, with, adjacent), adalah suatu prefik yang dugunakan dalam bahasa Inggris untuk menjukkan pada suatu abstraksi dari suatu konsep. (Wikipedia, Free Encyclopedia, 2008). Sedangkan cognition, menurut Ensklopedia tersebut berasal dari bahasa Latin yaitu cognoscere, yang berarti mengetahui (to know) dan mengenal (to recognize). Kognisi, disebut juga gejala-gejala pengenalan, merupakan “the act or process of knowing including both awareness and judgement” (Webster’s Seventh New Collegiate Dictionary, 1972 : 161). Sementara itu Huitt (2005) menyatakan “cognition refers to the process of coming to know and understand; the process of encoding, storing, processing, retrieving information.” .

Metakognisi (metacognition) merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976. Menurut Flavell, sebagaimana dikutip oleh Livingston (1997), metakognisi terdiri dari pengetahuan metakognitif (metacognitive knowledge) dan pengalaman atau regulasi metakognitif (metacognitive experiences or regulation). Pengetahuan metakognitif menunjuk pada diperolehnya pengetahuan tentang proses-proses kognitif, pengetahuan yang dapat dipakai untuk mengontrol proses kognitif. Sedangkan pengalaman metakognitif adalah proses-proses yang dapat diterapkan untuk mengontrol aktivitas-aktivitas kognitif dan mencapai tujuan-tujuan kognitif.

Sedangkan Livingstone (1997) mendefinisikan metakognisi sebagai thinking about thinking atau berpikir tentang berpikir. Metakognisi, menurut tokoh tersebut adalah kemampuan berpikir di mana yang menjadi objek berpikirnya adalah proses berpikir yang terjadi pada diri sendiri. Ada pula beberapa ahli yang mengartikan metakognisi sebagai thinking about thinking,, learning to think, learning to study, learning how to learn, learnig to learn, learning about learning (NSIN Research Matters No. 13, 2001).

Sementara itu Margaret W. Matlin (1998: 256) dalam bukunya yang diberi judul Cognition, menyatakan : “Metacognition is our knowledge, awareness, and control of our cognitive process” . Metakognisi, menurut Matlin, adalah pengeta-huan, kesadaran, dan kontrol terhadap proses kognitif yang terjadi pada diri sendiri.

Wellman (1985) sebagaimana pendapatnya dikutip oleh Usman Mulbar (2008) menyatakan bahwa: Metacognition is a form of cognition, a second or higher order thinking process which involves active control over cognitive processes. It can be simply defined as thinking about thinking or as a “person’s cognition about cognition” Metakognisi, menurut Wellman, sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses berpikir dua tingkat atau lebih yang melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif. Karena itu, metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir seseorang tentang berpikirnya sendiri atau kognisi seseorang tentang kognisinya sendiri.

William Peirce mendefinisikan metakognisi secara umum dan secara khusus. Menurut Peirce (2003), secara umum metakognisi adalah berpikir tentang berpikir. Sedangkan secara khusus, dia mengutip definisi metakognisi yang dibuat oleh Taylor, yaitu “an appreciation of what one already knows, together with a correct apprehension of the learning task and what knowledge and skills it requires, combined with the ability to make correct inferences about how to apply one’s strategic knowledge to a particular situation, and to do so efficiently and reliably.” (Peirce, 2003).

Tokoh berikut yang juga mendefinisikan metakognisi antara lain Hamzah B. Uno. Menurut Uno (2007: 134) metakognisi merupakan keterampilan seseorang dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya.

Taccasu Project (2008) mendiskripsikan pengertian metakognisi sebagai berikut ini.

1) Metacognition is the part of planning, monitoring and evaluating the learning process.

2) Metacognition is is knowledge about one’s own cognitive system; thinking about one’s own thinking; essential skill for learning to learning.

3) Metacognition includes thoughts about what are we know or don’t know and regulating how we go about learning.

4) Metacognition involves both the conscious awareness and the conscious control of one’s learning.

5) Metacognition is learning how to learn involves possessing or acquiring the knowledge and skill to learn effectively in whatever learning situation learners encounters.

Metakognisi, sebagaimana dideskripsikan pengertiannya oleh Taccasu Project pada dasarnya adalah kemampuan seseorang dalam belajar, yang mencakup bagaimana sebaiknya belajar dilakukan, apa yang sudah dan belum diketahui, yang terdiri dari tiga tahapan yaitu perencaan mengenai apa yang harus dipelajari, bagaimana, kapan mempelajari, pemantauan terhadap proses belajar yang sedang dia lakukan, serta evaluasi terhadap apa yang telah direncanakan, dilakukan, serta hasil dari proses tersebut.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan pada uraian di atas dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian tentang metakognisi sebagai berikut.

1) Metakognisi merupakan kemampuan jiwa yang termasuk dalam kelompok kognisi.

2) Metakognisi merupakan kemampuan untuk menyadari, mengetahui, proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.

3) Metakognisi merupakan kemampuan untuk mengarahkan proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.

4) Metakognisi merupakan kemampuan belajar bagaimana mestinya belajar dilakukan yang meliputi proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi.

5) Metakognisi merupakan aktivitas berpikir tingkat tinggi. Dikatakan demikian karena aktivitas ini mampu mengontrol proses berpikir yang sedang berlangsung pada diri sendiri.

2. Komponen-komponen Metakognisi

Para ahli yang banyak mencurahkan perhatiannya pada metakognisi, seperti John Flavel (Livington, 1997), Baker dan Brown, 1984, dan Gagne 1993 (Nur, 2005), menyatakan bahwa metakognisi memiliki dua komponen, yaitu (a) pengetahuan tentang kognisi, dan (b) mekanisme pengendalian diri dan monitoring kognitif. Sedang Flavell (Livingston, 1997) mengemukakan bahwa metakognisi meliputi dua komponen, yaitu 1) pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge), dan 1) pengalaman atau regulasi metakognisi (metacognitive experiences or regulation). Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh. Huitt (1997) bahwa terdapat dua komponen yang termasuk dalam metakognisi, yaitu (a) apa yang kita ketahui atau tidak ketahui, dan (b) regulasi bagaimana kita belajar (Mulbar, 2008).

Kedua komponen metakognisi, yaitu pengetahuan metakognitif dan regulasi metakognitif, masing-masing memiliki sub komponen-sub komponen sebagai-mana disebutkan berikut ini (OLRC News. 2004)

1) Pengetahuan tentang kognisi (knowledge about cognition)

Pengetahuan metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut :

a) declarative knowledge

b) procedural knowledge

c) conditional knowledge

2) Regulasi tentang kognisi (regulation about cognition)

Regulasi metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut:

a) planning,

b) informationmanagementstrategies,

c) comprehension monitoring,

d) debugging strategies, dan

e) evaluation.

Pengetahuan tentang kognisi adalah pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan kognisinya, yang mencakup tiga sub komponen. Komponen pertama, declarative knowledge, yaitu pengetahuan tentang diri sendiri sebagai pembelajar serta strategi, keterampilan, dan sumber-sumber belajar yang dibutuhkannya untuk keperluan belajar. Komponen kedua, procedural knowledge, yaitu pengetahuan tentang bagaimana menggunakan apa saja yang telah diketahui dalam declarative knowledge tersebut dalam aktivitas belajarnya. Komponen ketiga, conditional knowledge, adalah pengetahuan tentang bilamana menggunakan suatu prosedur, keterampilan, atau strategi dan bilamana hal-hal tersebut tidak digunakan, mengapa suatu prosedur berlangsung dan dalam kondisi yang bagaimana berlangsungnya, dan mengapa suatu prosedur lebih baik dari pada prosedur-prosedur yang lain.

Regulasi kognisi terdari dari sub komponen-sub komponen sebagai berikut. Pertama, planning, adalah kemampuan merencanakan aktivitas belajarnya. Kedua, information management strategies, adalah kemampuan strategi mengelola informasi berkenaan dengan proses belajar yang dilakukan. Ketiga, comprehension monitoring, merupakan kemampuan dalam memonitor proses belajarnya dan hal-hal yang berhubungan dengan proses tersebut. Keempat, debugging strategies, adalah kemampuan strategi-strategi debugging yaitu strategi yang digunakan untuk membetulkan tindakan-tindakan yang salah dalam belajar. Kelima, evaluation, adalah kemampuan mengevaluasi efektivits strategi belajarnya, apakah ia akan mengubah strateginya, menyerah pada keadaan, atau mengakhiri kegiatan tersebut.

3. Peranan Metakognisi terhadap Keberhasilan Belajar

Sebagaimana dikemukakan pada uraian sebelumnya bahwa metakognisi pada dasarnya adalah kemampuan belajar bagaimana seharusnya belajar dilakukan yang didalamnya dipertimbangkan dan dilakukan aktivitas-aktivitas sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).

1) Mengembangkan suatu rencana kegiatan belajar.

2) Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya berkenaan dengan kegiatan belajar.

3) Menyusun suatu program belajar untuk konsep, keterampilan, dan ide-ide yang baru.

4) Mengidentifkasi dan menggunakan pengalamannya sehari-hari sebagai sumber belajar.

5) Memanfaatkan teknologi modern sebagai sumber belajar.

6) Memimpin dan berperan serta dalam diskusi dan pemecahan masalah kelompok.

7) Belajar dari dan mengambil manfaat pengalaman orang-orang tertentu yang telah berhasil dalam bidang tertentu.

8) Belajar dari dan mengambil manfaatkan pengalaman orang-orang tertentu yang telah berhasil dalam bidang tertentu.

9) Memahami faktor-faktor pendukung keberhasilan belajarnya.

Berdasarkan apa yang dipaparkan di atas dapat dinyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar dipengaruhi oleh kemampuan metakognisinya. Jika setiap kegiatan belajar dilakukan dengan mengacu pada indikator dari learning how to learn sebagaimana disebutkan di atas maka hasil optimal niscaya akan mudah dicapai.

4. Pengembangan Metakognisi Peserta Didik dalam Pembelajaran

Mengingat pentingnya peranan metakognisi dalam keberhasilan belajar, maka upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan meningkatkan metakognisi mereka. Mengembangkan metakognisi pembelajar berarti membangun fondasi untuk belajar secara aktif. Guru atau dosen sebagai sebagai perancang kegiatan belajar dan pembelajaran, mempunyai tanggung jawab dan banyak kesempatan untuk mengembangkan metakognisi pembelajar. Strategi yang dapat dilakukan guru atau dosen dalam mengembangkan metakognisi peserta didik melalalui kegiatan belajar dan pembelajaran adalah sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).

1) Membantu peserta didik dalam mengembangkan strategi belajar dengan:

a) Mendorong pembelajar untuk memonitor proses belajar dan berpikirnya.

b) Membimbing pembelajar dalam mengembangkan strategi-strategi belajar yang efektif.

c) Meminta pembelajar untuk membuat prediksi tentang informasi yang akan muncul atau disajikan berikutnya berdasarkan apa yang mereka telah baca atau pelejari.

d) Membimbing pembelajar untuk mengembangkan kebiasaan bertanya.

e) Menunjukkan kepada pembelajar bagaimana teknik mentransfer pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dari suatu situasi ke situasi yang lain.

2) Membimbing pembelajar dalam mengembangkan kebiasaan peserta didik yang baik melalui :

a) Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri

Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri dapat dilakukan dengan : (1) mengidentifikasi gaya belajar yang paling cocok untuk diri sendiri (visual, auditif, kinestetik, deduktif, atau induktif); (2)memonitor dan meningkatkan kemampuan belajar (membaca, menulis, mendengarkan, mengelola waktu, dan memecahkan masalah); (3) memanfaatkan lingkungan belajar secara variatif (di kelas dengan ceramah, diskusi, penugasa, praktik di laboratorium, belajar kelompok, dst).

b) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir positif

Kebiasaan berpikir positif dikembangkan dengan : (1) meningkatkan rasa percaya diri (self-confidence) dan rasa harga diri (self-esteem) dan (2) mengidentifikasi tujuan belajar dan menikmati aktivitas belajar.

c) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis

Kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis dikembangkan dengan : (1) membuat keputusan dan memecahkan masalah dan (2) memadukan dan menciptakan hubungan-hubungan konsep-konsep yang baru.

d) Mengembangkan kebiasaan untuk bertanya

Kebiasaan bertanya dikembangkan dengan : (1) mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep utama dan bukti-bukti pendukung; (2) membangkitkan minat dan motivasi; dan (3) memusatkan perhatian dan daya ingat.

Pengembangan metakognisi pembelajar dapat pula dilakukan dengan aktivitas-aktivitas yang sederhana kemudian menuju ke yang lebih rumit.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Neil J. (2002) “The Role Of Metacognition in Second Language Teaching and Learning”. Digest April 2002. Tersedia pada: http://www.cal.org/ericcll /digest. Diakses pada 11 Februari 2006.

Blakey, Elaine dan Spence, Sheila. (2008) “Developing Metacognition” Tersedia pada : http://www.education.com/parter/articles. Diakses pada 13 September 2008.

Livingstone, Jennifer A. (1997) “Metacognition: An Overview” Tersedia pada: http: //http://www.gse.buffalo.edu/fas/shuell/CEP564/Metacog.html.)

Matlin, Margaret W. (1998) Cognition. Philadelphia: Harcourt Brace College Publisher.

Mulbar, Usman. (2008) “Metakognisi Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika”.Tersedia pada: http//www.usmanmulbar.files. wordpress. com. Diakses pada 8 Mei 2008.

Nur, Mohamad, Prima Retno Wikandri, dan Bambang Sugiarto. (1999) Teori Belajar. Surabaya: University Press Universitas Negeri Surabaya.

OLRC News. (2004) “Metacognition” Tersedia pada: http://www.literacy. kent.edu/ ohioeff/resource.doc. Diakses pada 27 Juni 2008.

Papaleontiou-Louca, Eleonora. (2008) Metacognition and Theory of Mind. Newcaltles: Cambridge Scholars Publishing.

Peirce, William. (2003) “Metacognition: Study Strategies, Monitoring, and Motivation”. Tersedia pada: http://www.academic.pgcc.edu /wpeirce/MCCCTR /index.html. Diakses pada 21 Agustus 2008.

Schraw, Gregory dan Brooks, David W. (2008) “Helping Students Self-Regulate in Chemistry Courses: Improving the Will and the Skill” Tersedia pada: http://www.dwb.unl.edu/dwb/default.html. Diakses pada 26 Juli 2008.

Taccasu Project. (2008) “Metacognition” Tersedia pada: http://www.hku.hk/cepc/taccasu/ref/metacognition.html. Diakses pada 10 September 2008.

Uno, Hamzah B. (2007) Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.

KONTRIBUSI STRATEGI KOGNITIF DALAM AKSELERASI PEMBELAJARAN 06/04/2009

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Oleh : Kuntjojo

A. Konsep-konsep Dasar Strategi Kognitif

1. Pengertian Strategi Kognitif

Gagne (Winkel, 2003: 72) menyatakan bahwa ada lima jenis hasil belajar yang diperoleh dari lima jenis aktivitas belajar, yaitu : a. belajar informasi verbal, b.belajar kemahiran intelektual, c. belajar pengaturan kegiatan kognitif, d. Belajar keterampian motorik, dan. e. belajar sikap. Tiga kelompok aktivitas belajar pertama oleh Gagne disebut sebagai belajar di bidang kognitif. Belajar pengaturan kegiatan kognitif atau strategi kognitif (cognitive strategy), menurut Gagne strategi kognitif merupakan keterampilan kognitif untuk memilih dan mengarahkan proses-proses internal dalam belajar dan berpikir (Windiyani, 2008)

Hartono mengutip artikel dari www.angelfire.com berisi ringkasan mengenai pengertian stratetegi kognitif. Dalam artikel yang ada di website tersebut dinyatakan ”Cognitive strategies are techniques that learners use to control and monitor their own cognitive prosesses” (Hartono, 2008: 3).

2. Latar Belakang Berkembangnya Strategi Kognitif

Strategi kognitif berkembang berdasarkan paradigma konstruktivistik dan teori metakognisi (metacognition theory). Paradigma konstruktivistik dan teori metakognisi melahirkan prinsip reflection in action. Menurut Schon (Pusdiklat Depdiknas, 2008) reflection in action adalah refleksi dari pengalaman praktisi profesional dalam pemecahan masalah yang pernah dihadapi untuk menghadapi masalah-masalah baru,

Proses reflection in action pada dasarnya merupakan gambaran tentang proses belajar. Bahwa proses belajar diawali dari pengalaman nyata yang dialami oleh si pembelajar. Pengalaman tersebut direfleksi secara individual. Dengan demikian pada dasarnya proses pembeljaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action.

Meta cognition merupakan ketrampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berfikirnya, Preisseisen (Pusdiklatdepdiknas, 2008). Menurut Preisseien meta cognition meliputi empat jenis ketrampilan, yaitu:

a. Ketrampilan pemecahan masalah (problem solving) yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternative pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.

b. Ketrampilan pengambilan keputusan (decision making), yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proes berfikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternative, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alas an-alasan yang rasional.

c. Ketrampilan berfikir kritis (critical thinking) yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya yaitu menganalisa argument dan memberikan interprestasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argument, dan interprestasi logis.

d. Ketrampilan berfikir kreatif (creative thinking) yaitu:Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan intuisi individu.

3. Peranan Strategi Kogntif dalam Keberhasilan Belajar Peserta Didik

Pesert adalah individu-individu yang telah dewasa baik secara fisik, afektif, sosial, maupun kognitif. Mereka secara teoritis adalah idividu-individu yang telah mampu menangani dan aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri. Dengan kemampuan mengatur kegiatan kognitif pada diri sendiri, mereka akan semakin baik pula pemikirannya.

Berkenaan dengan uraian singkat di atas dapat dinyatakan bahwa proses belajar dan pembelajaran di perguruan tinggi akan lebih berdaya guna jika pelaksanaannya merupakan aplikasi dari strategi kognitif. Aplikasi strategi kognitif di perguruan tinggi semakin diperlukan jika dilihat dari materi belajar peserta didik yang lebih banyak berupa konsep-konsep dan teori-teori.

B. Konsep-konsep Dasar Belajar Akselerasi

1. Pengertian Belajar Akselerasi

Belajar akselerasi adalah belajar yang dilakukan dengan waktu yang lebih pendek tanpa mengurangi materi yang seharusnya dipelajari. Jika pembelajaran akselerasi berhasil dalam pelaksanaannya dimana tujuan yang diharapkan juga tercapai maka diperoleh beberapa segi positif, yaitu: 1. peserta didik yang potensial dapat menyelesaikan pendidikannya lebih cepat dari waktu biasanya, 2. Efisien dalam waktu, dan 3. Efisien dalam biaya.

Kelas akselerasi merupakan kelas percepatan pembelajaran yang disajikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan lebih atau istimewa dengan materi-materi atau kurikulum yang padat sehingga dalam waktu lebih pendek mereka dapat menyelesaikan pendidikannya.

2. Konsekuensi Belajar Akselerasi

Percepatan waktu dalam pembelajaran akselerasi membawa konsekuensi yang tidak ringan baik itu dalam hal penyediaan fasilitas belajar muapun kemampuan guru untuk melaksanakannya. Jika pembelajaran akselerasi pelaksanaannya sama dengan pembelajaran biasa hanya waktunya saja yang diperpendek maka mustahil tujuan pembelajaran dapat tercapai. Untuk itu perlu dilakukan pembelajaran yang mampu mengoptimalkan kemampuan peserta didik, terutama kemampuan kognitif.

3. Perbedaan Belajar Secara Akseleratif dengan Belajar Secara Tradisonal

Belajar akselerasi dalam hal tujuan dan materi pembelajaran sama dengan belajar tradisional. Namun keduanya berbeda dalam beberapa hal Perbedaan keduanya selain dalam hal waktu, telah diidentifikasi oleh Maier (Pusdiklat Depdiknas, 2008), sebagaimana dikemukakan berikut ini.

a. Belajar secara tradisional, memiliki karakteristik:

1) bersifat kaku

2) suasanya muram dan serius

3) menggunakan satu jalan

4) mementingkan sarana

5) situasi persaingan ketat

6) bersifat behavioristik

7) aspek verbal diutamakan

8) bersifat mengendalikan

9) lebih mementingkan materi

10) aspek kognitif ditonjolkan

11) berdasarkan waktu

b. .Belajar secara akseleratif memiliki karekteristik;

1) bersifat fleksibel

2) suasanya gembira

3) menggunakan banyak jalan

4) mementingkan tujuan

5) melatih kerja sama

6) bersifat humanistik

7) mengfungsikan multri inderawi

8) bersifat mengasuh

9) lebih mementingkan aktivitas

10) berbagai aspek diperhatikan

11) berdasarkan hasil

4. Prinsip-rinsip Belajar Akselerasi

Belajar akselerasi sebagimana dipaparkan di atas dalam beberapa hal berbeda dengan belajar tradisional. Untuk mencapai keberhasilan belajar akselarasi ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip belajar akselarasi menurut Dave Meier (Pusdiklat Depdiknas, 2008) menulis beberapa prinsip pokok pemeblajaran akselerasi, yaitu:

1. Adanya keterlibatan total pembelajar dalam meningkatkan pembelajaran.

2. Belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasip, melainkan menciptakan pengetahuan secara aktif.

3. Kerjasama diantara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil belajar.

4. Belajar berpusat aktivitas sering lebih berhasil daripada belajar berpusat presentasi.

5. Belajar berpusat aktivitas dapat dirancang dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada waktu yang diperlukan untuk merancang pengajaran dengan presentasi.

C. Penerapan Strategi Kognitif dalam Akselerasi Pembelajaran

1. Strategi Kognitif sebagai pilihan untuk Akselerasi Pembelajaran

Tuntutan agar pembelajaran akselerasi mampu memenuhi harapan sebagaimana diuraikan di atas antara lain dapat dipenuhi dengan mengupayakan proses pembelajaran sedemian rupa. Salah satu upaya yang dapat dipilih adalah menerapkan strategi kognitif dalam proses tersebut atau pembelajaran startegi kognitif. Cognitive Strategy Instruction (CSI) is an instructional approach which emphasizes the development of thinking skills and processes as a means to enhance learning (EduTech Wiki, 2006). Pembelajaran strategi kognitif menurut EduTech Wiki, adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan perkembangan keterampilan berpikir dan proses-proses sebagai suatu alat untuk meningkatkan belajar. Pembelajaran stategi kognitif menurut Scheid, dilaksanakan utnuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam konteks ini Scheid menyatakan: The objective of CSI is to enable all students to become more strategic, self-reliant, flexible, and productive in their learning endeavors (EduTech Wiki, 2006).

2. Peran dan Tugas Guru dalam Belajar dan Pembelajaran Akselerasi

Agar pembelajaran cognitive strategi betul-betul efektif, maka ada beberapa ketentuan yang harus diikuiti oleh guru. Berkenaan dengan hal tersebut Cara Falitz (2006) menyatakan :

The first guideline is to teach prerequisite skills before strategy instruction begins. The second guideline would be for teachers to teach learning strategies on a constant basis and intensively. And the third guideline is requiring the student to gain mastery of a given strategy

Belajar merupakan proses holistik. Menurut Socrates dan John Dewey (Pusdiklat Depdiknas, 2008: 3), belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara mental dan fisik yang diikuti dengan kesempatan merefleksikan hal-hal yang dilakukan dari hasil perilaku tersebut. Menurut prinsip konstruktivisme, seorang pengajar atau guru, dan dosen berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu proses belajar siswa dan mahasiswa agar berjalan dengan baik. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sbb:

a. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggungjawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian.

b. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa.

c. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran si siswa jalan atau tidak.

Berdasarkan paradigma konstruktivisme, guru dituntut untuk dapat menjalankan perandengan sebaik-baiknya agar proses belajar berhasil secara optimal. Peran guru dan tugas guru menurut paradigma konstruktivistik adalah :

a. Guru banyak berinteraksi dengan siswa.

b. Guru lebih banyak memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah kepada siswa.

c. Guru memberikan kesempatan kepada para siswa agar mereka belajar dengan bekerja sama. Belajar dengan bekerja sama dapat menguntungkan pembelajar karena mereka dapat saling member dan menerima. Materi yang tidak bisa dimengerti dengan bekerja sama akan dapat terpecahkan.

d. Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama.

e. Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

f. Guru perlu memiliki pemikiran yang fleksibel.

Hal-hal yang penting dikerjakan oleh seorang guru konstruktivis sebagai berikut:

a. Mendengar secara sungguh-sungguh interpretasi siswa terhadap data

b. Memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas dan mengharga setiap pendapat yang diajukan.

c. Memahami bahwa “tidak mengerti” adalah langkah yang penting untuk memulai menekuni.

Jika strategi kognitif dilaksanakan secara konsekuen dan ditunjang dengan fasilitas belajar yang memadai maka proses belajar dan pembelajran akselarasi dapat membawa hasil, di mana peserta didik dapat menyelesaikan pendidikannya dengan hasil sebagaimana diharapkan dan dengan waktu yang lebih pendek.

Referensi

EduTech Wiki. 2006. ”Cognitive Strategy Instruction” Tersedia pada : http://www.edutechwiki.unige.ch/en/cognitive_strategy_instruction. (Diakses pada 10 Januari 2008).

Falitz, Cara. 1998.“Direct Instruction vs. Cognitive Strategy Instruction. Ter- sedia pada: http://ematusov.eds.udel.edu/EDST390.98F (Diakses pa-da tanggal 16 Februari 2008).

Pusdiklat Depdiknas. 2006. ”Startegi Kognitif”. Tersedia pada: http://www. Pusdiklatdepdiknas.net. (Diakses : 27 Maret 2008.)

Hartono. 2008. Modul Strategi Kognitif. Surabaya : UNIPA Surabaya.

Windiyani, Sri Bono. 2008. ”Belajar Bersama Alam” Tersedia pada : http://www.bocahkecil.info (Diakses pada tanggal 17 Juli 2008).

Winkel, W.S. 2003. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo.

MENGUPAYAKAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF UNTUK PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR MELALUI OPTIMALISASI KECERDASAN MAJEMUK 31/03/2009

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Oleh : Kuntjojo

 

A.   Urgensi Pembelajaran yang Efektif

Usaha mengembangkan kualitas sumber daya manusia menjadi semakin penting bagi setiap bangsa dalam menghadapi era persaingan global. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, suatu bangsa pasti akan tertinggal dari bangsa lain dalam percaturan dan persaingan kehidupan dunia internasional yang semakin kompetitif. Kompetisi bukan hanya terjadi pada barang barang dan jasa tetapi juga pada sumber daya manusia.

Bangsa Indonesia secara kuantitas tidak dapat diragukan lagi. Persoalan besar justru terjadi dalam kualitas. Sampai saat ini bangsa Indonesia belum sepenuhnya mampu memenuhi berbagai kebutuhannya sehingga menggantungkan pada produk bangsa lain. Meskipun bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam yang menjanjikan tetapi kekayaan tersebut belum sepenuhnya dapat dieksplorasi oleh bangsa Indonesia sendiri. Kata kunci berkenaan dengan masalah tersebut adalah kualitas sumber daya manusia. Untuk itu upaya pengembangan sumber daya manusia merupakan kebutuhan mendesak bagi bangsa Indonesia.

Pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas menjadi tanggung jawab pendidikan nasional, terutama dalam mempersiapkan peserta didik untuk menjadi subjek yang memiliki peran penting dalam menampilkan dirinya sebagai manusia yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional pada bidangnya (Mulyasa, 2002:3). Berkenaan dengan upaya pengembangan sumber daya manusia Indonesia, Depdiknas sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional telah mengembangkan visi insan Indonesia yang cerdas dan kreatif dan misi mewujudkan pendidikan yang mampu  membangun insan Indonesia cerdas dan kompetitif dengan adil, bermutu, dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global (www. ktsp.diknas.co.id/ktsp sd/ppt3). Visi dan misi tersebut selanjutnya dijadikan kerangka acuan dalam melakukan pembaharuan sistem pendidikan nasional. 

Upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang mampu membangun insan Indonsesia yang cerdas dan kompetitif, tidak akan dapat dilakukan tanpa mengupayakan proses pembelajaran yang berkualitas. Proses pembelajaran dinyatakan berkualitas jika proses tersebut berlangsung secara efektif, yaitu adanya kesesuaian antara hasil pembelajaran dengan tujuan pembelajaran.

Problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah proses belajar mengajar yang diberikan di kelas umumnya hanya mengemukakan konsep-konsep dalam suatu materi. Proses belajar dan pembelajaran yang banyak dilakukan adalah model pembelajaran ceramah dengan cara komunikasi satu arah (teaching directed), di mana yang aktif 90% adalah pengajar. Sedangkan peserta didik biasanya hanya memfungsikan indera penglihatan dan indera pendengarannya. Pengenalan akan konsep ini bukan berarti tidak diperlukan, akan tetapi yang biasanya terjadi hanya sampai sebatas pengertian konsep, tanpa dilanjutkan pada aplikasi.

Model pembelajaran seperti tersebut di atas dianggap kurang mengeksplorasi wawasan pengetahuan  sikap dan perilaku peserta didik. Karena selama proses belajar dan pembelajaran , apabila konsentrasi peserta didik kurang optimal, maka yang bersangkutan  akan mendapat kesulitan untuk menerima materi yang diajarkan pada saat itu, sehingga juga sulit bagi peserta didik untuk  menyimpan materi pelajaran tersebut dalam ingatan/memori/kesan yang diterimanya.

 

B.   Karakteristik Peserta Didik Usia 6 – 12 Tahun

Ditinjau dari fase perkembangan menurut Elizabeth B. Hurlock, peserta didik yang berusia 6 – 12 tahun adalah individu-individu yang berada pada masa kanak-kanak akhir (late childhood). Masa ini disebut juga sebagai masa sekolah (school age). Adapun karakteristik peserta didik masa usia sekolah menurut Hulock (1997: 147-148) didasarkan atas sikap dan pandangan mereka yang berhubungan erat dengan peserta didik usia sekolah,yaitu sebagai berikut.

1.      Menurut orang tua, masa kanak-kanak akhir merupakan : a. masa yang menyulitkan, b. masa yang tidak rapi (the dirty age), dan c. masa bertengakar.

2.      Menurut guru, masa kanak-kanak akhir merupakan  : a. masa bersekolah dan b. masa kritis.

3.      Menurut psikologi, masa kanak-kanak akhir merupakan  : a. masa berkelompok, b.masa penyesuaian diri, c. masa bermain, dan d. masa kreatif.

Dari ciri-ciri di atas, yang diperoleh berdasarkan sebutan  yang diberikan oleh tiga pihak tersebut, ciri-ciri yang diberikan oleh guru dan psikolog perlu mendapat perhatian berkenaan dengan proses pembelajaran di sekolah. Sebutan masa bersekolah mengandung makna bahwa pada masa ini inidividu mengalami perkembangan pada keterampilan fundamental pendidikan, yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Adapun sebutan masa kritis mengandung makna bahwa apa yang terjadi atau dialami oleh individu pada masa tersebut berpengaruh bahkan menentukan apa yang terjadi pada dirinya kemudian hari. Jika pada masa ini individu hidup dalam lingkungan yang memperhatikan kedisiplinan maka dikemudian hari latihan-latihan untuk berdisiplin tesbut membuat dirinya menjadi orang yang disiplin.  

Sebutan masa berkelompok oleh psikolog artinya pada masa ini individu-individu memiliki dorongan yang sangat kuat untuk berada dan bersama dengan teman-teman kelompok usia sebaya. Masa penyesuaian artinya masa dimana individu-individu belajar menyesuaiakn diri secara lebih luas dengan lingkungan social di luar rumah. Adapun sebutan masa bermain menunjuk bahwa individu pada masa ini banyak menggunakan waktunya untuk bermain. Bermain merupakan kebutuahan individu sebagimana dirinya membutuhkan makan dan minum. Sedangkan masa kreatif artinya pada masa ini individu mengalami perkembangan yang baik pada daya kreativitasnya.

Di samping beberapa karakteristik  seperti dijelaskan di atas ada beberapa hal yang menonjol berkenaan perkembangan beberapa aspek. Diantaranya adalah perkembangan konsep diri, perkembangan keterampilan, dan perkembambangan kemampuan berbicara. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, individu mulai mengagumi tokoh-tokoh dalam sejarah, cerita fantasi, film, dan olahraga yang kemudian diikuti dengan pembentukan konsep diri ideal, maksudnya individu ingin seperti tokoh-tokoh  yang dikagumi tersebut (Hurlock, 1997: 172).

Seiring dengan pertumbuhan fisiknya usia anak mengalami perkembangan pada aspek . keterampilan. Keterampilan yang berkembang baik pada masa kanak-kanak akhir menurut Hurlock (1997: 149) adalah keterampilan menolong diri sendiri, keterampilan menolong orang lain, keterampilan bersekolah, dan keterampilan bermain. Keterampilan menolong diri sendiri adalah keterampilan berkenaan memenuhi kebutuhannya misal makan, mandi berpakain, naik sepeda, dst. Keterampilan bersekolah ditunjukkan dengan kemampuannya membaca, menulis, berhitung, melukis, berolahraga, menari, menyanyi, dst.

Dengan meluasnya cakrawala sosial, anak menemukan bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat di dalam kelompok sehingga anak berusaha untuk berbicara lebih baik (Hurlock, 1997: 151). Anak juga  semakin memahami bahwa bentuk-bentuk komunikasi sederhana seperti menangis dan gerak-gerak isyarat secara sosial kurang diterima. Bidang-bidang yang mengalami kemajuan berkenaan dengan kemampuan berbicara menurut Hurlock (1997: 151-152) adalah penambahan kosa kata, pengucapan, pembentukan kalimat, dan pemahaman terhadap makna pembicaraan.

 

C.   Teori Kecerdasan Majemuk

Pada mulanya hanya dikenal satu macam kecerdasan yang sekarang ini popular dengan sebutan intelektual. Dewasa ini telah diketahui bahwa kecerdasan manusia bukan hanya satu macam, melainkan bermacam-macam. Tokoh yang telah mengidentifikasi bermacam-macam kecerdasan yang dimiliki oleh manusia adalah seorang psikolog dari Amerika, Dr. Howard Gardner (DePorter dan Hernacki, 2007: 30).  Apa yang dikemukakan oleh Gardner selanjutnya dikenal sebagai teori kecerdasan majemuk. Menurut Gardner kecerdasan manusia terdiri dari 8 macam sebagai berikut. 

1.      Kecerdasan linguistik adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis.

2.      Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan mengolah angka dan menggunakan logika atau akal sehat dengan baik.

3.      Kecerdasan spasial adalah kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat.

4.      Kecerdasan kinestetis-jasmani adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan.

5.      Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk menangani berbagai bentuk musik dengan cara mempersepsi, membedakan, mengubah, dan mengekspresikannya.

6.      Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain.

7.      Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.

8.      Kecerdasan naturalis adalah kemampuan mengenali dan mengkatogerikan flora dan fauna di sekitarnya.

Menurut Gardner setiap individu memiliki ke delapan macam kecerdasan tersebut namun tidak semua kecerdasan tersebut  tidak berada dalam kualitas yang bagus semua. Hanya ada satu atau beberapa macam yang kualitasnya lebih baik dari yang lain.

 

D.   Pembelajaran yang Efektif untuk Peserta Didik Usia Sekolah

Selama ini dalam proses pembelajaran lebih mengarah pada dominasi otak kiri. Indikasi untuk itu antara lain : aktivitas tubuh lebih banyak menggunakan kaki dan tangan kanan yang fungsinya dikendalikan oleh otak kiri, sistem pembelajaran lebih banyak menekankan pada kemampuan bahasa (verbal linguistic) dan logika matematis yang dikendalikan oleh otak kiri serta aktivitas-aktivitas keseharian (membaca, menghitung, mengurutkan, dst.) yang fungsinya juga dikendalikan oleh otak kiri.

Kondisi seperti itu jika terjadi terus menerus akan menyebabkan dampak negatif  pada peserta didik yaitu : mudah lupa, sulit konsentrasi, tidak kreatif dalam memecahkan masalah, tidak mampu memahami permasalahan secara baik, tidak mampu belajar dalam waktu yang relatif lama, dan stres. Jika hal demikian terjadi maka tujuan-tujuan pembelajaran pasti tidak dapat dicapai yang pada akhirnya tujuan pendidikan juga gagal dicapai.  Untuk mencegah terjadi problem seperti itu maka hendaknya dilakukan upaya pembelajaran yang betul-betul efektif.

Upaya mewujudkan pembelajaran yang efektif juga telah dilakukan dengan merubah paradigm yang selama ini berlaku.  Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku.

Pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah pembelajaran dengan menggunakan sepasang perspektif, yaitu fokus pada individu pembelajar (keturunan, pengalaman, perspektif, latar belakang, bakat, minat, kapasitas, dan kebutuhan) dengan fokus pada pembelajaran (pengetahuan yang paling baik tentang pembelajaran dan bagaimana hal itu timbul serta tentang praktek pengajaran yang paling efektif dalam meningkatkan tingkat motivasi, pembelajaran, dan prestasi bagi semua pembelajar. Fokus ganda ini selanjutnya memberikan informasi dan dorongan pengambilan keputusan pendidikan.

Melalui proses pembelajaran dengan keterlibatan aktif siswa ini berarti guru tidak mengambil hak anak untuk belajar dalam arti yang sesungguhnya. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.

Tantangan bagi guru sebagai pendamping pembelajaran siswa, untuk dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa perlu memahami tentang konsep, pola pikir, filosofi, komitmen metode, dan strategi pembelajaran. Untuk menunjang kompetensi guru dalam proses pembelajaran berpusat pada siswa maka diperlukan peningkatan pengetahuan, pemahaman, keahlian, dan ketrampilan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran berpusat pada siswa. Peran guru dalam pembelajar berpusat pada siswa bergeser dari semula menjadi pengajar (teacher) menjadi fasilitator. Fasilitator adalah orang yang memberikan fasilitasi. Dalam hal ini adalah memfasilitasi proses pembelajaran siswa. Guru menjadi mitra pembelajaran yang berfungsi sebagai pendamping (guide on the side) bagi siswa.

          Pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif jika faktor-faktor yang terkait dengan proses tersebut dipertimbangkan dengan dengan matang diantaranya adalah karakteristik si pembelajar. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa terdapat  karakteristik tertentu pada peserta didik usia sekolah. Selain itu  fungsi belahan otak kiri dan otak kanan juga berpengaruh dalam proses belajar. Begitu juga keberadaan delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh setiap peserta didik.

Atas dasar paparan di atas dapat dinyatakan bahwa  upaya melakukan pembelajaran yang efektif dapat ditempuh dengan mengoptimalkan delapan macam kecerdasan. Dengan tindakan tersebut berarti berusaha memfungsikan belahan otak kiri dan kanan secara seimbang.  Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan model rangsangan untuk merawat kecerdasan (DePorter dan Hernacki, 2007: 30).

Aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dilakukan dengan mengoptimalkan delapan macam kecerdasan peserta didik adalah pembelajaran yang di dalamnya ada materi-materi atau pengalaman-pengalaman sebagai berikut:

1.    Latihan merangkai, menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tertulis, bercerita, dst. untuk mengembangkan kecerdasan linguistik.

2.    Latihan pemecahan masalah, baik yang berkenaan dengan angka maupun tidak. Kegiatan ini dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan matematis-logis.

3.    Latihan memahami dan membuat objek-objek tiga dimensi untuk mengembangkan kecerdasan spasial-visual.

4.    Gerak tubuh melalui kegiatan bermain, olah raga dan tari, untuk mengembangkan kecerdasan kinestetik-jasmani. Kegiatan bermain dapat berupa bermain fisik, kreatif, imajinatif, dan manipulative. Bermain fisik, merupakan kegiatan bermain yang berkaitan dengan upaya pengembangan aspek motorik anak seperti berlari, melompat, memanjat, berayun-ayun. Bermain kreatif, merupakan bentuk bermain yang erat hubungannya dengan pengembangan kreatifitas seperti menyusun balok, bermain dengan lilin atau pasir, melukis dengan jari dan sebagainya. Bermain imajinatif merupakan kegiatan bermain yang menyertakan fantasi anak seperti bermain sandiwara dimana anak dapat mengembangkan imajinasi dengan peran yang berbeda-beda. Bermain manipulatif, merupakan kegiatan bermain yang menggunakan alat tertentu seperti gunting, obeng, palu, lem, kertas lipat dan sebagainya untuk mengembangkan kemampuan khusus anak.Bermain yang menyenangkan bagi anak ini kan memberikan rasa aman dan bebas secara psikologis, suatu kondisi yang amat dibutuhkan bagi upaya pengembangan kreatifitas anak. Disamping itu, bermain yang merupakan kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan guna menemukan sesuatu dengan cara baru, memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengekspresikan dorongan kreatifnya.

5.    Apresiasi musik, praktik memainkan alat musik, dan menyanyi, untuk mengembangkan kecerdasan musikal.

6.    Latihan untuk mengenal siapa dirinya dan belajar mengendalikan diri dengan menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku.

7.    Latihan memahami, menghargai, dan menyesuaikan diri dengan teman-teman serta para guru di sekolah, untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal.

8.    Mengenal dan mendekat terhadap lingkungan alam melalui kegiatan SKAL (studi kenal lingkungan), untuk mengembangkan kecerdasan naturalis .

 

Upaya pembelajaran dengan materi atau pengalaman belajar sebagaimana tersebut di atas dilakukan untuk memberdayakan semua macam kecerdasan peserta didik melalui mata pelajaran-mata pelajaran terstentu yang relevan, dengan menganggap setiap peserta didik sebagai juara, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan, guru hadir di lingkungan belajar sebagai pribadi yang sangat menyenangkan dan terus berusaha  melakukan inovasi secara dalam cara mengajarnya. 

 

 

Referensi

 

Depdiknas. 2007. “Renstra Depdiknas 2005 – 2009.” Tersedia pada http://www. ktsp.diknas.co.id/ktsp sd/ppt3 (Diakses tanggal 16 Februari 2008).

 

DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2007.Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

 

Hurlock, Elizabeth B. 1997. Psikologi Perkembangan (Alih Bahasa : ). Jakarta: Erlangga.

 

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

Blogged with the Flock Browser

Ilmu dan Upaya Manusia untuk Memperoleh Kebenaran 10/08/2008

Posted by ebekunt in Uncategorized.
Tags: , ,
add a comment

Oleh: Kuntjojo

1. Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk yang berakal budi. Dengan akal budinya, manusia mampu mengembangkan kemampuan yang spesisifik manusiawi, yang menyangkut daya cipta, rasa maupun karsa. Dengan akal budinya, maka kemampuan bersuara bisa menjadi kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Manusia mampu menciptakan dan menggunakan symbol-simbol dalam kehidupan sehari-hari, sehingga oleh Ernst Cassirer disebut sebagai animal symbolicum (Suriasumantri, 2005: 171).

Adanya akal budi juga menyebabkan manusia mampu berpikir abstrak dan konseptual sehingga manusia disebut sebagai makhluk pemikir (homosapiens). Aristoteles menyebut manusia karena kemampuan sebagai animal that reason, dengan cirri utamanya selalu ingin mengetahui. Pada manusia melekat kehausan intelektual (intellectual curiousity), yang menjelma dalam aneka wujud pertanyaan (Rinjin, 1996: 9).

Manusia selalu bertanya karena terdorong oleh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut sudah muncul pada awal perkembangannya. Manifestasi dari hasrat ingin tahu tersebut antara lain berupa pertanyaan: apa ini atau apa itu? Pertanyaan tersebut selanjutnya berkembangan menjadi: mengapa demikian dan bagaimana cara mengatasinya ?

Hasrat ingin tahu manusia tersebut terpuaskan bila manusia memperoleh pengetahuan yang benar mengenai hal-hal yang dipertanyakan. Dalam sejarah perkembangannya, manusia ternyata manusia selalu berusaha memperoleh pengetahuan yang benar atau yang secara singkat dapat disebut sebagai kebenaran (Suryabrata, 2000: 2). Manusia senantiasa berusaha memahami, memperoleh, dan memanfaatkan kebenaran untuk kehidupannya. Tidak salah jika satu sebutan lagi diberikan kepadanya, yaitu manusia sebagai makhluk pencari kebenaran.

2. Pendekatan-pendekatan untuk Memperoleh Kebenaran

Ada beberapa pendekatan yang dipakai manusia untuk memperoleh kebenaran yaitu : pendekatan empiris, pendekatan rasional, pendekatan intuitif, pendekatan religius, pendekatan otoritas, dan pendekatan ilmiah.

a. Pendekatan Empiris

Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata. Dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya, yang kemudia diproses dan mengisi kesadarannya. Indera bagi manusia merupakan pintu gerbang jiwa. Tidak ada pengalaman yang diperoleh tanpa melalui indera.

Kenyataan seperti yang disebutkan di atas menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman. Kebenaran dari pendapat tersebut kiranya tidak dapat dipungkiri. Bahwa dengan pengalaman kita mendapatkan pemahaman yang benar mengenai bentuk, ukuran, warna, dst. mengenai suatu hal. Upaya untuk mendapatkan kebenaran dengan pendekatan demikian merupakan upaya yang elementer namun tetap diperlukan.

Mereka yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukab didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkrit dan dapat dinyatakan melalui tangkapan indera manusia.

b. Pendekatan Rasional

Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio. Upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir. Dengan kemampuannya ini manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.

Golongan yang menganggap rasio sebagai satu-satunya kemampuan untuk memperoleh kebenaran disebut kaum rasionalis. Premis yang mereka pergunakan dalam penalarannya adalah ide, yang menurut anggapannya memang sudah ada sebelum manusia memikirkannya. Fungsi pikiran manusia adalah mengenal ide tersebut untukdijadikan pengetahuan.

c. Pendekatan Intuitif

Menurut Jujun S. Suriasimantri (2005: 53), intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahannya. Atau secara tiba-tiba seseorang memperoleh “informasi” mengenai peristiwa yang akan terjadi. Itulah beberapa contoh intuisi.

Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit atau tak bisa dijelaskan, dan tak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Bahkan seseorang yang pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bisa mengulang pengalaman serupa.

Kebenaran yang diperoleh dengan pendekatan intuitif disebut sebagai kebenaran intuitif. Kebenaran intuitif sulit untuk dipertanggung jawabkan, sehingga ada-ada pihak-pihak yang meragukan kebenaran macam ini.

Meskipun validitas intuitisi diragukan banyak pihak, ada sementara ahli yang menaruh perhatian pada kemampuan manusia yang satu ini. Bagi Abraham Maslow, intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience), sedangkan bagi Nietzsche, intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi (Sumantri, 2005: 53).

d. Pendekatan Religius

Manusia merupakan makhluk yang menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan adi kodrati, yaitu Tuhan. Kekuatan adi kodrati inilah sumber dari segala kebenaran. Oleh karena itu agar manusia memperoleh kebenaran yang hakiki, manusia harus berhubungan dengan kekuatan adi kodrtai tersebut.

Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti tersebutdi atas disebut sebagai pendekatan religius atau pendekatan supra-pikir (Rinjin, 1996: 54). Disebut demikian karena pendekatan tersebut melampai daya nalar manusia manusia.

Kebenaan religius bukan hanya bersangkuta paut dengan kehidupan sekarang dan yang terjangkau oleh pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transcendental, seperti latar belakang penciptaan manusia dan kehidupan setelah kematian.

e. Pendekatan Otoritas

Usaha untuk memperoleh kebenaran juga dapat dilakukan dengan dasar pendapat atau pernyataan dari pihak yang memiliki otoritas. Yang dimaksud dengan hal ini adalah individu-individu yang memiliki kelebihan tertentu disbanding anggota masyarakat pada umumnya.

Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Mereka yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran.

Sepanjang sejarah dapat ditemukan contoh-contoh mengenai ketergantungan manusia pada otoritas dalam mencari kebenaran. Pada masa Yunani kuno para pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles dipandang sebagai sumber kebenaran, bahkan melebihi pengamatan atau pengalaman langsung. Apa yang dinyatakan oleh para tokoh tersebut dijadikan acuan dalam memahami realitas, berpikir, dan berindak.

f. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah pertumpu pada dua anggapan dasar, yaitu : pertama, bahwa kebenaran dapat diperoleh dari pengamatan dan kedua, bahwa gejala itu timbul sesuai dengan hubungan-hubungan yang berlaku menurut hokum tertentu (Ary dkk., 2000: 63).

Pendekatan ilmiah merupakan pengombinasian yang jitu dari pendekatan empiris dan pendekatan rasional. Kombinasi ini didasarkan pada hasil analisis terhadap kedua pendekatan tersebut. Pada satu segi kedua pendekatan tersebut bisa dipertanggung jawabkan namun pada segi yang lain terdapat beberapa kelemahan.

Kelemahan pertama pendekatan empiris, bahwa pengetahuan yang berhasil dikumpulkan cenderung untuk menjadi kumpulan fakta-fakta. Kumpulan fakta-fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif (Suriasumantri, 2005: 52). Kelemahan kedua, terletak pada kesepakatan mengenai pemahaman hakikat pengalaman yang merupakan cara untuk memperoleh kebenaran dan indera sebagai alat yang menangkapnya.

Sedangkan kelemahan yang terdapat pada pendekatan rasional adalah terdapat pada kriteria untuk menguji kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya. Apa yang menurut seseorang jelas, benar, dan dapat dipercaya belum tentu demikian untuk orang lain. Dalam hal ini pemikiran rasional cenderung bersifat solipsisteik dan subjektif (Suriasumantri, 2005: 51).

Kelemahan-kelemahan darikedua pendekatan tersebut bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan mengombinasikan keduanya. Kombinasi tersebut diwujudkan dengan langkah-langkah yang sistematis dan terkontrol. Upaya memahami realitas dalam hal ini didasarkan pada kebenaran atau teori ilmiah yang ada serta mengujinya dengan mengumpulkan fakta-fakta.

Suatu kebenaran dapat disebut sebagai kebenaran ilmiah bila memenuhi dua syarat utama, yaitu : pertama, harus sesuai dengan kebenaran ilmiah sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan, dan kedua, harus sesuai dengan fakta-fakta empiris. Sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.

3. Ilmu sebagai Kebenaran Ilmiah

a. Karakteristik Kebenaran Ilmiah

Telah dipaparkan di atas bahwa dengan pendekatan ilmiah diperoleh pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu dapat dipahami sebagai proses, prosedur, dan produk (The Liang Gie, 2004: 90). Pembahasan berikut ini ditekankan pada makna ilmu sebagai produk. Sebagai produk ilmu tidak lain adalah pengetahuan atau kebenaran ilmiah yang memiliki karakteristik: a. sistematisasi, b. keumuman, c. rasionalitas, d. objektivitas, e. verifiabilitas, dan f. komunalitas.

Pengetahuan dapat digolongkan sebagai ilmu bila pengetahuan tersebut tersusun secara sistematis. Dan apa yang tersusun secara sistematis sebagai suatu kesatuan tersebut haruslah memiliki sifat keumuman (generality), artinya bahwa kebenaran yang terkandung didalamnya harus dapat berlaku secara umum atau luas jangkauannya.

Ciri rasionalitas mengandung makna bahwa kebenaran ilmiah bersumber pada pemikiran rasional yang mematuhi kaidah-kaidah logika. Sedangkan ciri objektivitas menunjuk pada kesesuaian antara hal-hal yang rasional dengan realitas. Ciri verifiabilitas mempunyai arti bahwa kebenaran ilmiah harus dapat diperiksa kebenarannya, diuji ulang oleh setiap anggota masyarakat ilmuwan. Hal ini menunjuk bahwa kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak atau final. Adapun ciri terakhir dari kebenaran ilmiah yaitu komunalitas memiliki arti bahwa kebenaran ilmiah itu merupakan pengetahuan yang menjadi milik umum.

Berbicara tentang karakteristik kebenaran ilmiah, Sonny Keraf A. dan Mikhael Dua (2001: 75), menyatakan bahwa kebenaran ilmiah mempunyai sekurang-kurangnya tiga sifat dasar, yaitu : rasional-logis, isi empiris, dan dapat diterapkan (pragmatis). Hal itu berarti bahwa kebenaran ilmiah yang logis dan impiris itu pada akhirnya dapat diterapkan dan digunakan bagi kehidupan manusia.

b. Fungsi Kebenaran Ilmiah

Semua kebenaran bermanfaat bagi manusia demikian juga dengan kebenaran ilmiah. Fungsi dari kebenaran ilmiah adalah : deskriptif, prediktif, dan pengendalian berkenaan dengan dengan gejala-gejala yang ada dalam dunia pengalaman manusia.

Fungsi deskriptif menunjuk pada keharusan ilmu untuk bisa memberikan penjelasan secara rinci, lengkap, dan runtut mengenai berbagai hal yang menjadi perhatian manusia. Penjelasan tersebut bisa bersifat deskriptif, preskriptif, eksposisi pola, maupun rekonstruksi histories.

Bila gejala-gejala yang ada di alam semesta dapat dijelaskan, maka selanjutnya dapat dilakukan prediksi atau membuat perkiraan-perkiraan tentang apa yang akan terjadi kemudian. Inilah fungsi kedua dari ilmu, yaitu fungsi prediktif. Atas dasar hasil prediksi, selanjutnya dapat dilakukan pengendalian, yaitu mencegah agar gejala-gejala yang tidak diinginkan tidak terjadi serta mendorong agar terjadi gejala-gejala yang dikehendaki.

4. Kesimpulan

Sebagai penutup dari pembahasan mengenai ilmu dan upaya manusia untuk memperoleh kebenaran, dikemukakan kesimpulan sebagai berikut.

a. Manusia merupakan homo sapiens atau makhluk pemikir. Sebagai makhluk pemikir maka pada diri manusia melekat selalu ingin tahu.

b. Hasrat ingin tahu manusia mendorong dirinya untuk mencari jawaban yang benar mengenai berbagai hal yang dipertanyakan.

c. Kebenaran dapat diperoleh manusia dengan berbagai pendekatan, salah satu diantaranya adalah dengan pendekatan ilmiah. Dengan pendekatan ilmiah manusia dapat memperoleh ilmu atau kebenaran ilmiah.

d. Kebenaran ilmiah memiliki karakteristik : sistematisasi, keumuman, rasionalitas, objektivitas, verifiabilitas, dan komunalitas.

e. Fungsi dari kebenaran ilmiah adalah deskriptif, prediktif, dan pengendalian.

Referensi

Ary, Donald. Dkk. 2000. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Alih Bahasa: Arief Furchan. Surabaya: Usaha Nasional.

Keraf, A. Sony dan Dua, Mikhael. 2001. Ilmu Pengetahuan : Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius.

Rinjin, Ketut. 1996. Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar. Bandung: CV Kayumas.

Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsaat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Suryabrata, Sumadi. 2000. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

The Liang Gie. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.