jump to navigation

KECERDASAN INTERPERSONAL 31/10/2010

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

Oleh : Kuntjojo

1. Pengertian Kecerdasan Interpersonal

Menurut Lwin et al (2008: 197), kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak.

Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas untuk memahami maksud, motivasi, dan keinginan orang lain (Prasetyo dan Andriani, 2009: 74).  Kecerdasan interpersonal, menurut Safaria (2005: 23), merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menang-menang atau saling menguntungkan (Safaria, 2005: 23).  Menurut Safaria (2005: 23) individu yang tingggi kecerdasan interpersonalnya akan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, berempati secara baik, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, dapat dengan cepat memahami temperamen, sifat, suasana hati, motif orang lain. (more…)

Advertisements

PSIKOANALISIS 30/10/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

Oleh: Kuntjojo

A. Sigmund Freud sebagai Pendiri Psikoanalisis

Berbicara mengenai Psikologi Dalam (depth psychology) dan Psikoanalisis pasti berbicara mengenai Sigmund Freud. Sebab psikoanalisis yang merupakan main stream dari psikologi dalam merupakan hasil karya Sigmund Freud. Temuan Freud tentang ketidaksadaran jiwa sebagai salah satu penggerak perilaku manusia dinyatakan sebagai temuan yang fenomenal. Freud dilahirkan pada 6 Mei 1856 di Moravia, sebuah kota kecil di Austria. Pada saat dia berumur 4 tahun, keluarganya mengalami kemunduran dalam bidang ekonomi, dan ayah Freud membawa pindah keluargnya, termasuk Freud, ke Wina. Setelah tamat dari sekolah menengah di Wina, Freud masuk fakultas kedokteran Universitas Wina dan lulus sebagai dokter tahun 1881. Semula ia tidak ingin berpraktik sebagai dokter karena ingin menjadi peneliti. Namun karena kebutuhan keluarga, terutama setelah dia menikah maka akhirnya mulai tahun 1886 ia menjalani praktik sebagai dokter. Meskipun demikian minatnya untuk menjadi ilmuwan tidak pernah surut  Di sela-sela praktiknya, ia masih menyempatkan diri untuk melakukan penelitian dan menulis, terutama dalam bidang neurologi, sebuah bidang yang mendorong Freud menekuni penyembuhan  gangguan-gangguan neurosis. (more…)

KEPRIBADIAN MENURUT PARADIGMA HUMANISTIK 30/06/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

Maslows hierarchy of needs

Oleh: Kuntjojo

A. Pendahuluan

Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).

(more…)

STRES 30/06/2009

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags:
add a comment

STRESS_m

Oleh: Kuntjojo

A. Konsepsi-konsepsi Mengenai Stres

Dewasa ini istilah stress merupakan istilah sehari-hari, yang bukan saja diucapkan oleh para psikolog, psikiater, ataupun kalangan akademisi, tetapi juga diucapkan oleh anak-anak maupun orang dewasa dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan. Tetapi mereka yang mengucapkan kata tersebut belum tentu mengerti apa sebenarnya stres itu. Bagi kebanyakan orang, stres dianggap sama dengan psikosis.

Apakah sebenarnya stres itu ? Samakah stres dengan psikosis ? Faktor-faktor apakah yang dapat menyebabkan stres ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut dikemukakan konsep-konsep mengenai stress. Secara garis besar ada tiga pandangan mengenai stres, yaitu : stres merupakan stimulus, stres merupakan respon, dan stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan (Bart Smet, 1994 : 108-111). Dan penulis menambahkan satu pandangan lagi, yaitu stress sebagai hubungan antara individu dengan stressor.

1. Stres Sebagai Stimulus

Menurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang ada dalam lingkungan (environment). Individu mengalami stres bila dirinya menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Dalam konsep ini stres merupakan variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat.

Stress sebagai stimulus dapat dicontohkan : lingkungan sekitar yang penuh persaingan, misalnya di terminal dan stasiun kereta api menjelang lebaran. Mereka yang ada di lingkungan tersebut, baik itu calon penumpang, awak bus atau kereta api, para petugas, dst., sulit untuk menghindar dari situasi yang menegangkan (stressor) tersebut. Hal serupa juga dapat diamati pada lingkungan di mana terjadi bencana alam atau musibah lainnya, misalnya banjir, gunung meletus, ledakan bom di tengah keramaian, dst.

2. Stres Sebagai Respon

Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress merupakan respon atau reaksi individu terhadap stressor. Dalam konteks ini stress merupakan variabel tergantung (dependen variable) sedangkan stressor merupakan variabel bebas atau independent variable.

Pengertian stres yang mengacu pada konsepsi stres merupakan respon diantaranya dikemukakan oleh E.P. Gintings. Menurut Gintings (1999 : 5-6), stres ialah reaksi tubuh manusia kepada setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam hal sebagai berikut.

a. Keletihan dan kelelahan akibat kehidupan.

b. Suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis.

c. Mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman.

d. Tergangguangan mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang bersifat fisik, sosial, mental, dan spiritual oleh karena perubahan mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan maupun menyenangkan.

e. Mengecilnya potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan, beban berat, dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang.

Respon individu terhadap stressor memiliki dua konponen, yaitu : komponen psikologis, misalnya terkejut, cemas, malu, panik, nerveus, dst. dan komponen fisiologis, misalnya denyut nadi menjadi lebih cepat, perut mual, mulut kering, banyak keluar keringat dst. respon-repons psikologis dan fisiologis terhadap stressor disebut strain atau ketegangan.

3. Stres Sebagai Interaksi antara Individu dengan LingLingkungan

Menurut pandangan ketiga, stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional. Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian. (Bart Smet, 1994 : 111).

Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan, stres tidak dipandang sebagai stimulus maupun sebagai respon saja, tetapi juga suatu proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif, yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional.

Konsepsi di atas dapat diperjelas berdasarkan kenyataan yang ada. Misalnya saja stressor yang sama ditanggapi berbeda-beda oleh beberapa individu. Individu yang satu mungkin mengalami stres berat, yang lainnya mengalami stres ringan, dan yang lain lagi mungkin tidak mengalami stres. Bisa juga terjadi individu memberikan reaksi yang berbeda pada stressor yang sama. Faktor apa saja yang menyebabkan gejala demikian ?

Menurut Bart Smet (1994 : 130-131), reaksi terhadap stres bervariasi antra orang satudengan yang lain dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama, karena pengaruh variabel-varibel sebagai berikut.

a. Kondisi individu, seperti : umur, tahap perkembangan, jenis kelamin, temperamen, inteligensi, tingkat pendidikan, kondisi fisik, dst.

b. Karakteristik kepribadian, seperti : introvert atau ekstrovert, stabilitas emosi secara umum, ketabahan, locus of control, dst.

c. Variabel sosial-kognitif, seperti ; dukungan sosial yang dirasakan, jaringan sosial, dst.

d. Hubungan dengan lingkungan sosial, dukungan sosial yang diterima, integrasi dalam jaringan sosial, dst.

e. Strategi coping.

4. Stres Sebagai Hubungan antara Individu dengan Stressor

Stres bukan hanya dapat terjadi karena faktor-faktor yang ada di lingkungan. Bahwa stressor juga bisa berupa faktor-faktor yang ada dalam diri individu, misalnya penyakit jasmani yang dideritanya, konflik internal, dst. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang sebagai hubungan antara individu dengan stressor, baik stressor internal maupun eksternal.

Konsep tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh W.F. Maramis (1980 : 65-69), mengenai sumber stress. Menurut Maramis, stress dapat terjadi karena frustrasi, konflik, tekanan, dan krisis.

a. Frustrasi merupakan terganggunya keseimbangan psikis karena tujuan gagal dicapai.

b. konflik adalah terganggunya keseimbangan karena individu bingung menghadapi beberapa kebutuhan atau tujuan yang harus dipilih salah satu.

c. Tekanan merupakan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan oleh individu. Tekanan bisa datang dari diri sendiri, misalnya keinginan yang sangat kuat untuk meraih sesuatu. Tekanan juga bisa datang dari lingkungan.

d. Krisis merupakan situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan.

B. Macam-macam Stres

Ditinjau berdasarkan stresornya, stress dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu eustress dan distress. Eustress (good stress) merupakan stress yang disebabkan oleh stresor yang postif, misalnya berita bahwa individu mendapatkan suatu hadiah besar yang tidak terduga sebelumnya. Sedangkan distress merupakan stres yang disebabkan oleh stresor yang yang negatif, misalnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga, gagal dalam suatu usaha, dst.

C. Usaha-usaha Mengatasi Stres

1. Prinsip Homeostatis

Stres merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan cnderung bersifat merugikan. Oleh karena itu setiapindividu yang mengalaminya pasti berusaha mengatsi masalah ini. Hal demikian sesuai dengan prinsipyang berlaku pada organisme, khususnya manusia, yaitu prinsip homeostatis. Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. Sehingga bila suatu saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha mengembalikannya pada keadaan seimbang.

Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. Sebab keberaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup organisme. Lapar, haus, lelah, dts. merupakan contoh keadaan tidak seimbang. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan untuk mendapatkan makanan, minuman, dan untuk beristirahat. Begitu juga halnya dengan terjadinya ketegangan, kecemasan, rasa sakit, dst. mdondorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi ketidak seimbangan ini.

2. Proses Coping terhadap Stres

Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal dengan proses coping terhadap stress. Lazarus dan Folkman (Bart Smet, 1994 : 143), menggambarkan coping sebagai :

“ …..Suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan asng berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful…”

Menurut Bart Smet, coping mempunyai dua macam fungsi, yaitu : (1) Emotional-focused coping dan (2) Problem-focused coping. Emotional-focused coping dipergunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stress. Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan minuman keras, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, dst. Sedangkan problem-focused coping dilakukan dengan mepelajari keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stress. Menurut Bart Smet, individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya yakin dapat merubah situasi, dan metoda ini sering dipergunakan oleh orang dewasa.

Berbicara mengenai upaya mengatasi Stres, Maramis (1980 : 71-72) berpendapat bahwa ada bermacam-macam tindakan yang dapat dilakukan untuk itu, yang secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu (1) cara yang berorientasi pada tugas atau task oriented dan (2) cara yang berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence mechanism.

Mengatasi stres dengan cara berorientasi pada tugas berarti upaya mengatasi masalah tersebut secara sadar, realistis, dan rasional. Menurut Maramis cara ini dapat dilakukan dengan “serangan”, penarikan diri, dan kompromi. Sedangkan cara yang berorientasi pada pembelaan ego dilakukan secara tidak sadar (bahwa itu keliru), tidak realistis, dan tidak rasional. Cara kedua ini dapat dilakukan dengan : fantasi, rasionalisasi, identifikasi, represi, regresi, proyeksi, penyusunan reaksi (reaction formation), sublimasi, kompensasi, salah pindah (displacement).

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan untuk meredakan stress antara lain: relaks, cari sesuatu atau situasi yang dapat membuat tertawa, ambil nafas dalam-dalam, sharing, melakukan aktivitas yang tidak memerlukan tenaga, baik pikiran mapun fisik, yang berat, dst.

REFERENSI

Davison (et al) (2006) Psikologi Abnormal (Alih bahasa: Noermalasari Fajar) Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Maramis, W.F. (2000) Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Smet, Bart. (1994) Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Yulia Singgih D. (2000) Azas-azas Psikologi Keluarga Idaman. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Blogged with the Flock Browser

Latar Belakang Lahirnya Psikologi Dalam 09/08/2008

Posted by ebekunt in Psikologi.
Tags: ,
add a comment

Oleh : Kuntjojo

A. Psikologi sebagai Ilmu yang Berdiri Sendiri

Pada mulanya semua ilmu, termasuk psikologi, merupakan bagian dari filsafat. Sehingga ada pernyataan philosophy is the mother of sciences. Psikologi menjadi bagian dari filsafat berlangsung sampai abad ke-18. Pada saat itu pembahasan mengenai segi kejiwaan dilakukan dengan pendekatan filosofis oleh para filsuf. Pertanyaan utama yang ingin dijawab oleh para filsuf adalah : jiwa itu apa. Sedangkan metoda yang dipakai dalam membahas hal tersebut adalah reflective thinking.

Pada abad ke-18 para ahli berusaha menjelaskan gejala-gejala jiwa dengan ilmu faal atau fisiologi. Para ahli dalam bidang tersebut misalnya Sir Charles Bell, Francois Magendi, dan Johannes Peter Muller, telah melakukan penelitian untuk memperoleh gambaran tentang perilaku manusia. Bell dan Magendi berhasil menjelaskan gejala jiwa dalam hubungannya dengan saraf sensoris dan saraf motoris. Muller menjelaskan gejala pengamatan dengan hukum enerji spesifik.

Pada abad ke-19, tepatnya tahun 1879 psikologi diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Pengakuan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pengetahuan yang mempelajari segi kejiwaan manusia telah memenuhi syarat sebagai pengetahuan ilmiah, yaitu memiliki objek yang spesifik dan metoda ilmiah. Diakuinya psikologi sebagai suatu disiplin ilmu berkat usaha yang telah dilakukan oleh Wilhelm Wundt. Wundt, seorang filsuf, dokter, sosiologi, dan ahli hokum dari Jerman, mendirikan laboratorium psikologi yang pertama di dunia. Labo-ratorium tersebut didirikan oleh Wundt di Leipzig, Jerman pada tahun 1879.

Di dalam laboratorium yang didirikannya, Wundt tidak mempelajari hakikat jiwa melainkan fenomena-fenomena kejiwaan manusia berupa tingkah laku. Metoda ilmiah yang dikembangkan olerh Wundt adalah metoda eksperimen dengan memakai teknik introspeksi.

Pada masa awal berdirinya, psikologi didominasi gagasan dan upaya mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan jiwa orang dewasa yang normal. Sehingga ciri dari psikologi Wundt adalah penekanannya pada analisis atas proses-proses kesadaran yang dipandang terdiri dari elemen-elemen dasar, serta upayanya menekankan hukum-hukum yang membawahi hubungan diantara elemen-elemen kesadaran tersebut. Karakteristik yang demikian menyebabkan psikologi yang dikembangkan oleh Wundt dinamakan struturalisme atau psikologi elementalisme (Koeswara, 2005 : 27).

Kesadaran, di samping dipandang sebagai kesatuan yang terdiri dari elemen-elemen dasar, oleh Wundt dan para ahli lainnya pada masa itu, dinyataan juga sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental manusia. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia selalu berasal atau bersumber dari kesadaran.

B. Situasi yang Berkembang dalam Bidang Psikiatri

Sampai akhir abad ke-19 dalam bidang psikiatri berlaku pendapat bahwa semua gangguan jiwa berasal dari salah satu kerusakan organis dalam otak. Dalam kalangan medis pada waktu itu seakan-akan menjadi dogma bahwa penyebab gangguan jiwa tidak boleh tidak harus bersifat organis (Bertens, 1979 : xiii). Biarpun mereka belum mengetahui kerusakan apa yang menyebabkan gangguan jiwa tertentu, namun mereka berkeyakinan bahwa secara anatomis otak pasti tidak beres.

Sebenarnya ada orang-orang yang pendapatnya berbeda dengan apa yang berlaku pada saat itu. Bahwa gangguan jiwa bisa saja terjadi karena faktor afektif. Namun pendapat demikian tenggelam karena suara mayoritas.. Beberapa ahli yang berpendapat bahwa gangguan jiwa bisa terjadi karena factor nonorganis antara lain sebagai berikut.

1. J. Esquirol

Pada tahun 1805 seorang ahli dari Perancis, Esquirol, menulis deser-tasi yang berjudul Passions Consideres Comme Causes, Symtomes et Moyens Curafits de I’alienatien Mentale atau nafsu-nafsu dipandang sebagai penyebab, gejala, dan cara penyembuhan gangguan psikis (Bertens, 1879 : xiii).

Gagasan utama yang terdapat dalam desertasi tersebut adalah sebagai berikut.

a. bahwa faktor kejiwaan dapat menyebabkan gangguan jiwa;

b. bahwa gangguan jiwa dapat dikenali berdasarkan gejala-gejala yang bersifat kejiwaan;

c. bahwa penyembuhan gangguan jiwa dilakukan dengan pendekatan psikologis.

2. Dr. Joseph Breuer

Dalam upayanya menyembuhkan penderita histeria, Breuer meng-gunakan metoda hipnosis. Dengan metoda ini dia berhasil memastikan bahwa penyebab histeria adalah ingatan-ingatan tak sadar tentang peris-tiwa-peristiwa traumatis yang dialami oleh penderita.

Upaya Breuer menyembuhkan pasien dari histeria pernah dilakukan bersama dengan Sigmund Freud. Pengalaman mereka dalam menangani kasus Anna O. dipublikasikan pada tahun 1895 dalam buku yang diberi ju-dul Studien uber Hysterie (Studi-studi tentang Histeria).

3. J.M. Charcot

Charcot adalah seorang dokter dari rumah sakit La Salpetriere di Paris, Perancis, juga menggunakan metoda hypnosis dalam menyem-buhkan pasien-pasien penderita hysteria. Dia telah membuktikan bahwa kelumpuhan histeris berkaitan dengan faktor-faktor emosional dan pi-kiran-pikiran yang melintasi benak pasien dan bukan berasal dari gangguan fisik.

4. Piere Janet

Janet merupakan psikolog yang kemudian menempuh pendidikan kedokteran. Dia juga pernah menjadi murid Charcot. Janet mengakui bahwa perana patogenis yang dimainkan oleh ingatan-ingatan mengenai peristiwa emosional yang pernah dilupakan. Dia menulis hasil obser-vasinya dengan judul L’automatisme Psycholoique pada tahun 1889. Dalam tulisan tersebut dia menyatakan bahwa ingatan traumatis tidak dapat diulangi dalam keadaan sadar, tetapi hanya bila pasien dimasukkan dalam keadaan hipnosis.

C. Kelahiran Psikologi Dalam

Berbeda dengan Breuer, Charcot, Bernheim, dan terapis-terapis pada waktu itu, yang membiaran data yang diperoleh, Freud mulai menempatkan data yang ia dapatkan dari kegiatan terapinya dalam kerangka psikologi, serta ia berusaha memahami kejadian munculnya neurosis dari sudut psikologi, dan bukan dari su-dut neurologi atau fisiologi. Dengan demikian, sejak Freud menempuh jalannya sendiri, mengembangkan gagasan dan metodanya sendiri, Freud sebenarnya telah berada dalam usaha membangun landasan bagi konsepsi psikoanalisis dan ternyata usaha ini memang berhasil. Sehingga ada pernyataan bahwa metoda asosiasi bebas merupakan tonggak dimulainya psikologi dalam pada umumnya dan psikoanalisis pada khususnya.

Selain metoda asosiasi bebas, Freud juga mengembangkan metoda analisis mimpi (dream analysis) untuk penelitiannya. Metoda ini dikembangkan Freud berdasarkan asumsi bahwa isi mimpi merupakan simbol dari keinginan-keinginan atau pengalaman-pengalaman traumatis tertentu yang ditekan (represi) ke dalam alam tidak sadar. Dengan demikian, sebagaimana dinyatakan Freud, mimpi itu sendiri merupakan via regia (jalan utama) menuju alam tidak sadar (Bertens, 1979: xx). Artinya, melalui penafsiran atas sebuah mimpi bisa diketahui keinginan-keinginan atau pengalaman-pengalaman apa saja yang direpres dan berada di dalam ketidaksadaran. Untuk menguji ketepatgunaan metoda analisis mimpi, Freud menjadikan dirinya sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian ini kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Die Traumdeutung (The Interpretation of Dreams), yang terbit tahun 1900.

Dengan kemampuan yang baik dalam menulis serta ditunjang dengan data, selain buku yang telah disebutkan di atas, Freud juga menulis beberapa buku yang bukan hanya terbatas pada bidang psikologi dan psikopatologi, tetapi juga di bidang kebudayaan (mitologi), agama, dan sastra. Buku-buku buah gagasan Freud diantaranya adalah sebagai berikut (Koeswara, 1991 : 31).

1. Psychopathology of Everyday Life (1901)

2. Three Essays on Sexuality (1905)

3. Case of Dora (1905)

4. Introductory Lectures on Psychoanalysis (1920)

5. The Ego and the Id (1923)

6. Future of a Illution (1927)

7. Civilization and Its Discontents (1930)

Buku-buku tersebut tersebut dengan gagasan-gagasan yang termuat di dala-mnya, menjadikan Freud pusat perhatian serta menarik minat sejumlah besar orang untuk mempelajari psikoanalisis dan menjadi pengikut Freud. Diantara mereka terdapat nama-nama yang kemudian menjadi terkenal seperti Alfred Adler, Carl Gustav Jung, Ernest Jones, A.A. Brill, Otto Rank, Sandor Ferenzci, dan Hans Sachs. Tetapi dikemudian hari Adler dan Jung memisahkan diri dari Freud dan psikoanalisis karena ada perbedaan pendapat yang tajam, dan kemudian keduanya mengembangkan teori daln aliran psikologi sendiri. Adler mengembangkan Indivual Psychology dan Jung mengembangkan Analitical Psychology.

Psikoanalisis, Psikologi Individual, dan Psikologi Analitis secara umum disebut sebagai Psikologi Dalam (Depth Psychology) atau Psikologi Dinamis. Sebutan tersebut diberikan oleh karena fokus perhatian ketiga aliran psikologi tersebut pada aspek terdalam dari kehidupan jiwa manusia, yaitu ketidak sadaran. Kehidupan jiwa manusia menurut Psikoanalisis, Psikologi Individual, dan juga Psikologi analitis bersifat dinamis. Dinamika tersebut hanya bisa dipahami jika faKtor penggeraknya, baik yang disadari maupun yang tidak disadari dipahami terlebih dahulu.

Referensi

Berry, Ruth. (2001) Freud : Seri Siapa Dia. (Alih Bahasa : Frans Kowa). Jakarta: Erlangga.

Boeree, C.G. (2005) Sejarah Psikologi : Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern (Alih Bahasa : Abdul Qodir Shaleh). Yogyakarta : Primasophie.

Boeree, C. G. (1997) .Personality Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa : Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta : Primasophie.

Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung : PT Eresco.

Masrun. (1977) Aliran-aliran Psikologi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.